Skip to main content

Posts

Showing posts from February, 2026

Tiga Malam di Kaki Monrolo, Kumpulan Puisi PM. Laksono

  Judul: Tiga Malam di Kaki Monrolo, Kumpulan Puisi PM. Laksono Penulis: PM. Laksono Editor: Ons Untoro, Indro Suprobo Isi:  14 X 20 cm, xxii +118 hlm  Cetakan Pertama: Maret  2026 Penerbit: Tonggak Pustaka PM Laksono, sekali lagi menurut pengamatan saya, adalah penyair yang memiliki poetic sensorium kuat. Sebagai seorang antropolog dengan jam terbang tinggi, kepekaan pandangnya menembus rutinitas tinubuh (embodied), relasi-relasi keruangan, dan endapan-endapan historis. Citra-citra rabaan, bauan, dan cecapan dapat dihidupkannya sebelum merujuk kepada makna apa pun. Namun, yang mungkin lebih menakjubkan bagi audiens bertelinga musikal, puisi-puisinya ternyata mampu merambah bunyi-bunyi ikonis, bentang bunyi (soundscape), dan ritme yang kaya. Dengan membaca puisi-puisi PM Laksono, saya kira, kita bisa belajar mengasah sikap observant (kepekaan observasi), ketimbang cerewet men-declare, mengumbar kata-kata dengan sia-sia. Sebagai seorang etnografer, Pak Laks tidak...

Tapa Pendhem, Kumpulan Puisi Marjuddin Suaeb

  Judul: Tapa Pendhem, Kumpulan Puisi Marjuddin Suaeb Penulis: Marjuddin Suaeb Editor: Ons Untoro, Indro Suprobo Isi:  14 X 20 cm, xii + 74 hlm  Cetakan Pertama: Februari 2026 Penerbit: Tonggak Pustaka Menulis puisi, tak berhenti. Mungkin, satu-satunya aktivitas yang dilakukannya setiap hari, disela-sela melakukan pekerjaan lain. Ia tahu, puisi tidak menghasilkan uang, dan Marjuddin tidak mencari uang melalui puisi. Bertani, merupakan pekerjaan untuk mendapatkan uang, meskipun tak selalu dilakukannya sendiri, seringkali diburuhkan. Dalam berdiam diri di rumah, sambil merawat ibunya, ia merenungkan jalan hidupnya. Dalam situasi seperti ini, Marjuddin menangkap banyak momentum puitik, yang kemudian ia tuliskan menjadi puisi. Puisi-puisi Marjuddin menggunakan bahasa yang khas, dalam arti menggunakan caranya sendiri. Kalimat dalam puisinya pendek-pendek dan diteruskan titik, yang kemudian ditambah kata, lagi-lagi pendek. Kadang hanya satu dua kata. Penyair Fauzi Abza...

Amuk Kenang, Sebuah Kumpulan Puisi

  Judul: Amuk Kenang, Sebuah Kumpulan Puisi Penulis: Sutirman Eka Ardhana Editor: Ons Untoro, Indro Suprobo Isi:  14 X 20 cm, x + 78 hlm  Cetakan Pertama: Februari 2026 Penerbit: Tonggak Pustaka Ini adalah kumpulan puisi terbaru dari Sutirman Eka Ardhana. Rupanya, masa lalu Eka tidak pernah lepas dari ingatannya, dan menjadi kenangan yang (terus) memburu. Eka menyebutnya diamuk. Ingatannya seperti diamuk kenangan. Masa kecil di Bengkalis, Riau, terbuka dari ingatannya. Seolah Eka seperti melihat layar, dan suasana   tanah kelahiran bisa dilihat dari layar. Berbagai macam ingatan terus menerjang, seperti gelombang laut yang tak bisa dilawan. Karena itu, Eka menulis puisi berjudul ‘Amuk Kenang’ untuk mengkristalkan ingatannya. Judul puisi itu sekaligus menjadi judul buku kumpulan puisi karyanya.