Menulis
puisi, tak berhenti. Mungkin, satu-satunya aktivitas yang dilakukannya setiap
hari, disela-sela melakukan pekerjaan lain. Ia tahu, puisi tidak menghasilkan
uang, dan Marjuddin tidak mencari uang melalui puisi. Bertani, merupakan
pekerjaan untuk mendapatkan uang, meskipun tak selalu dilakukannya sendiri,
seringkali diburuhkan.
Dalam
berdiam diri di rumah, sambil merawat ibunya, ia merenungkan jalan hidupnya.
Dalam situasi seperti ini, Marjuddin menangkap banyak momentum puitik, yang
kemudian ia tuliskan menjadi puisi.
Puisi-puisi
Marjuddin menggunakan bahasa yang khas, dalam arti menggunakan caranya sendiri.
Kalimat dalam puisinya pendek-pendek dan diteruskan titik, yang kemudian ditambah
kata, lagi-lagi pendek. Kadang hanya satu dua kata. Penyair Fauzi Abzal,
sahabat karibnya, menyebut bahasa puisi Marjuddin sebagai mata uang baru. Bagi
Fauzi, puisi-puisi yang ditulis kebanyakan penyair sekarang masih menggunakan
mata uang lama, sehingga orang mengenalinya. Sedangkan Marjuddin, menggunakan
mata uang baru, yang tidak dikenali secara umum, sehingga bisa dimengerti
sebagai sesuatu yang ‘unik’, atau malah tidak lazim dalam peta Bahasa
Indonesia.
