Satu buku
kumpulan puisi yang berjudul Negeri Tanpa Suara karya lebih 140 penyair
Nusantara menuliskan tema politik. Dari puisi-puisi dalam buku ini, politik tidak dituliskan
dengan nada amarah, dan ketika dibacakan harus sambil mengepalkan tangan. Tensi
politik tidak selalu berhadapan, tapi bisa berupa sindiran. Metafor dalam puisi
ini, memberikan keindahan politik. Atau bahwa politik tidak selalu keras,
bahkan maskulin. Diksi-diksi dalam puisi politik ini, tidak heroik, melainkan,
kalau dalam bahasa Jawa disebut nylekit, sehingga terasa getir dan
menggigit hati.
Judul buku
puisi ini diambilkan dari puisi karya Joashua Igho. Mungkin, puisi Igho
dianggap bisa mewakili puisi-puisi yang lain sekaligus merepresentasikan
situasi politik di Indonesia. Tanpa suara dalam konteks ini, saya kira, bukan
dalam arti sepi, tidak ada kritik. Malah sebaliknya, penuh sekali suara, tetapi
suara-suara itu tidak memperlihatkan wajah negara menjadi jelas, malah semakin
buram, dan ada yang menyebutnya sebagai gelap.
