Kota sebagai ruang memiliki bacaannya sendiri. Setiap kota memiliki kompleksitas persoalannya sendiri. Kota menjadi ruang interaksi berbagai macam kelompok sosial, ekonomi, politik dan budaya. Karena itu, setiap kota tensi persoalannya berbeda-beda. Karena itu, membaca kota bukan hanya mendiskripsikan persoalan fisik, melainkan merupakan ruang interaksi yang penuh benturan kepentngan.
Ini, ada lebih dari 300 puisi, karya 158 penyair dari berbagai kota di Indonesia bercerita mengenai kota. Bukan hanya soal tanda-tanda fisik, atau tempat-tempat indah, melainkan menuliskan kenangan, kerinduan, tempat-tempat kuliner dan ingatan masa lalu, atau satu peristiwa di satu kota.
Penyair tidak hanya menuliskan kota di mana dia tinggal, atau sebagai tempat kelahiran. Melainkan menuliskan kota yang pernah dikunjungi, atau menyinggung sejarah kota, persahabatan dan kenangan masa lalu. Puisi-puisi dalam buku berjudul ‘Kata Kota Kita’ ini merupakan bacaan terhadap kota, yang dipenuhi imajinasi, sehingga kota tidak berhenti sebagai ruang yang kaku, dan fisik belaka sifatnya. Melainkan kota yang hidup, membuka ingatan, memberikan dimensi terhadap kota.
