Sejumlah
penelitian menunjukkan untuk mencapai usia di atas 90 tahun, faktor genetik
(warisan biologis) memegang peranan dominan. Namun, memiliki tubuh yang hidup
hingga usia 90 tahun ke atas tidak menjamin otak tetap jernih. Banyak orang
mencapai usia tua dengan jasmani sehat, memori dan pikirannya sudah tidak
jernih.
Kami memusatkan
kajian pada istilah super-aging, Suhardi sebagai super-ager. Konsep super-aging
menunjuk pada keawetan dan ketajaman memori dan pikiran yang tak berkurang di
usia lanjut alias tidak pikun sama sekali.
Ini dapat kita pelajari, kita latih dan rawat sepanjang hidup. Semua
orang bisa dan mempunyai peluang memori dan pikiran tetap jernih di usia lanjut
bahkan di era kecerdasan buatan.
Pertanyaan yang
menggelitik, adakah peluang untuk menjadi super-ager ala Suhardi di era kecerdasan buatan
(Artificial Intelligence/AI) seperti sekarang ini?
Ternyata peluang
itu ada. Lebih lanjut pertanyaannya, bagaimanakah cara-nya kita dapat merawat
pikiran, otak, memori kita ketika hampir semua kerja dapat tergantikan oleh AI
? Suhardi memberi inspirasi, bahwa upaya menjadi super-ager, merawat memori dan
otak kita agar awet sampai usia tua dapat diupayakan di zaman AI.
Penelitian
lintas disiplin, dari psikologi hingga gerontologi, menunjukkan bahwa individu
yang selalu mempunyai tujuan hidup
sehingga merasa hidup bermakna, cenderung menua dengan lebih sehat, lebih
jernih, dan lebih tahan mental.
