Losarium,
yang pada mulanya merupakan kata yang menunjukkan tempat, yakni sebuah Resto
dan Caffee di wilayah Losari, Ngaglik, yang merupakan teritori, dalam kumpulan
puisi ini, oleh Yuliani telah di-deteritorialisasi-kan sehingga tidak hanya
menjadi penanda tempat, melainkan sebagai penanda peristiwa, sesuatu yang
bergerak dan terus-menerus berlangsung dan menjadi. Ia juga menjadi kata yang
mencerminkan seluruh cara baru dalam membaca realitas dan pengalaman, cara baru
untuk mengungkapkan perasaan, imajinasi, kegelisahan, keterlibatan, dan seluruh
pengetahuan yang menubuh di dalam dirinya, yakni pengetahuan yang diperoleh
dari seluruh kehadirannya.
Losarium,
Catatan Kecil dari Losari, adalah kreativitas dan kebaharuan yang ditawarkan oleh Yuliani
Kumudaswari untuk melihat, merasakan, mengenali, membaui, mendengarkan,
menyentuh, meraba, mengingat, mengetahui dan membaca seluruh realitas secara
baru dan menantang. Seluruh diksi, metafora, alegori yang dipilih di dalam
kumpulan puisi ini menunjukkan kreativitas dan kebaharuan itu. Namun yang
pantas dicermati, sebagai catatan dari Losari, ia bukanlah sesuatu yang telah
selesai dan berhenti. Ketika dibaca ulang, catatan-catatan kecil itu senantiasa
merupakan proses yang sama sekali baru dan masih berlangsung dan menawarkan
kemungkinan-kemungkinan tersembunyi yang masih dapat senantiasa disingkapkan.
