Skip to main content

Air Mata Kata, Kumpulan Puisi

 



Judul: Air Mata Kata, Kumpulan Puisi
Penulis: Ana Ratri dkk
Editor:  Ons Untoro, Indro Suprobo
Isi: 14 X 20 cm, xiv +162 hlm 
Cetakan Pertama: Juni 2026
Penerbit: Tonggak Pustaka


 

Di era digital orang bisa saling berjumpa tanpa harus meninggalkan tempat. Bahkan masing-masing tinggal di kota berbeda. Syaratnya, di tempat masing-masing tersedia koneksi wifi. Karena tersedia fasilitas itu, perjumpaan sesuatu yang mudah. Ruang tidak menjadi kendalala, meski jarak dan waktu memisahkan, malah semuanya melebur menjadi satu: ruang dan waktu saling berhimpitan.

          Ada sejumlah teman, secara fisik sudah sering saling bertemu. Secara digital, hampir setiap hari saling bersapa melalui group WhatsApp. Artinya, dalam bersahabat masing-masing saling melakukan interaksi berupa kata maupun tatap muka sambil ngopi, sesekali, mungkin, gibah.

          Rupanya, perjumpaan digital atau tatap muka, bagi sejumlah sahabat ini belum cukup. Karena semua sahabat ini semua pemuisi, yang memiliki jam terbang berbeda-beda, namun masing-masing tidak menempatkan dirinya paling unggul, atau puisinya lebih baik dari yang lain. Menulis puisi ya menulis puisi, begitu saja, tidak perlu memposisikan puisinya lebih baik dari yang lain, meski pengalamanan lebih panjang. Mereka, para sahabat itu melakukan perjumpaam dalam karya, daalam satu buku puisi.

          Masing-masing mengirimkan 10 puisi. Tema puisi bebas, dan disatukan dalam satu buku. Saya kira, perjumpaan karya ini merupakan jenis perjumpaan yang kreatif, sekaligius dalam bersahabat masing-masing saling menumbuhkan nyala kreativitas. Ini satu persahabatan yang produktif, karena menghasilkan karya yang sama.

          Agaknya, dalam bersahabat semua saling tahu, bahwa ruang puisi di media  sudah sangat terbatas, kalau terlalu ekstrim disebut hilang. Rupanya para sahabat ini memahami, bahwa ruang puisi dalam bentuk penerbitan buku tidak pernah lenyap. Ia selalu muncul di ruang-ruang komunitas disangga dan dihidupi bersama. Di dalam komunitas masing-masing saling bersahabat dan berkarya, terbuka pula bagi penikmat dan pecinta sastra.

          Selain itu, mereka tahu, bahwa puisi tidak selalu bisa menghasilkan uang, dan mereka tetap menulis puisi. Karena menulis puisi, yang utama, bukan untuk mencari uang. Melainkan untuk memberi makna dalam hidupnya, dan puisi adalah cara bagaimana hidup memberi makna.

          Tema puisi bebas, dan tidak harus puisi baru. Hanya saja perlu dibatasi titi mangsa dalan karya puisi, yakni puisi yang ditulis tahun 2022 – 2026, dan boleh sudah dipublikasikan di media apapun. Batasan titi mangsa itu diperlukan, setidaknya untuk menunjukkan bahwa selama 5 tahun belakangan, masing-masing masih (terus) menulis puisi. Ini artinya, kreativitas menulis puisi tidak berhenti.

          Karena seringkali kita menemukan, menulis puisi saat ada lomba, sesudah lomba selesai tidak lagi menulis puisi. Atau menulis puisi karena ada panggilan antologi puisi bersama. Begitulah, menulis puisi selalu ‘dalam rangka’, bukan karena menjaga tradisi menulis.

          Awalnya, persahabatan ini terbentuk karena sering bertemu di satu villa di Kaliurang. Di tempat ini saling ngobrol, nyanyi-nyanyi, ngopi, makan bersama. Berulangkali pertemuan di Kaliurang dilakukan, termasuk melakukan apa yang disebut sebagai upacara minum teh. Di Villa Kaliurang ada pohon jeruk, yang sering dipetik untuk dinikmati, sehingga kalau mengajak ke Kaliurang sering menggunakan kata sandi: tilik jeruk. Maka, persahabatan itu akhirnya disebut sebagai komunitas tilih jeruk. Tidak permanen sifatnya, hanya insidental. Buku puisi ini bukan untuk meneguhkan komunitas tilik jeruk. Lebih sebagai menumbuhkan kreativitas dan menjaga persahabatan.

          Karena tema puisi bebas, sehingga ditemukan banyak tema dalam buku puisi ini, setidaknya bisa untuk mengerti, bahwa persahabatan sangat kompleks dan kaya imajinasi, persis seperti puisi-puisi dalam buku ini, imajinasinya beragam dan kompleksitas persoalannya saling memberi warna.

          Setiap pemuisi memiliki pengalaman hidup yang berbeda, dan pengalaman tidak bisa saling diperbadingkan. Masing-masing pengalaman saling melengkapi dan memperkaya.

 

Air Mata Kata

           Dari 100 lebih puisi yang ada dlam buku ini, satu puisi karya Joshua Igho berjudul Air Mata Kata diambil menjadi judul buku. Karena puisi ini setidaknya bisa memberikan dimensi puitik pada buku, dan sekaligus menganyam semua puisi dalam satu bingkai. Namun bukan berarti masing-masing puisi tensinya berada dibawah puisi tersebut. Tak ada hubungannya. Setiap puisi memiliki karakter sendiri, dan semuanya terajut dalam kalimat air mata kata, bukan terajut dalam puisi Joshua Igho.   

          Air mata kata seperti padasan, ketika dibuka penutupnya, air mengalir, sehingga siap untuk digunakan. Kreativitas seperti padasan saat  katupnya dibuka air akan mengalir. Setiap kali melihat momentum puitik, mata akan mengalirkan kata, sehingga puisi terwujud. Persahabatan selalu akan bertukar pikiran, bertukar pengalaman semua itu akan melahirkan kreativitas, dan bentuknya berupa karya. Puisi salah satu bentuk karya itu.

          Setiap peristiwa, seringkali mengandung momentum puitik di dalamnya, dan pemuisi melihat momentum itu, maka segera mengalirlah kata-kata menjadi puisi. Itulah air mata kata. 

          Judul buku puisi selain bisa diambilkan dari salah satu puisi yang ada di dalam buku, bisa pula dibuat di luar judul buku, yang dibuat oleh editornya atau penyairnya. Jadi, tidak ada keharusan mengambil dari salah satu judul puisi. Dalam buku puisi ini, judul buku diambil dari salah satu puisi, karena judul puisi memberikan nuansa puitik yang kuat, dan terasa enak untuk judul buku. Maka, dipilihlah puisi tersebut menjadi judul buku, bukan berarti puisi tersebut paling baik di antara puisi-puisi lainnya. Tak ada hubungannya sama sekali.

 

Memperkuat persahabatan melalui puisi

           Persahabatan memang perlu saling dijaga. Ada banyak cara menjaga persahabatan, salah satunya dengan cara berkarya bersama. Dengan cara ini, persahabatan saling menumbuhkan kreativitas. Buku puisi ini, karya dari para sahabat, yang saling menjaga dan menguatkan dalam bersahabat. Tidak saling menonjolkan diri dan menjadi dominan, kalaupun ada yang dianggap, sebut saja. sebagai ‘yang tua’, lebih sebagai pengikat dalam persahabatan, bukan untuk menokohkan. Karena, dalam persahabatan tidak ada tokoh.

          Karya puisi masing-masing merupakan cara bagaimana masing-masing saling menjaga dan menguatkan dalam persahabatan, sehingga bisa dikatakan puisi merupakan media untuk melakukan hal itu. Karena itu, jangan lelah menulis puisi. Karena menulis puisi, yang utama bukan untuk menjadi penyair, melaikan untuk menjaga dan meneguhkan persahabatan. Predikat penyair merupakan akibat bukan tujuan. Maka, teruslah menulis puisi untuk memperluas persahabatan, (*)