Di era
digital orang bisa saling berjumpa tanpa harus meninggalkan tempat. Bahkan
masing-masing tinggal di kota berbeda. Syaratnya, di tempat masing-masing
tersedia koneksi wifi. Karena tersedia fasilitas itu, perjumpaan sesuatu yang
mudah. Ruang tidak menjadi kendalala, meski jarak dan waktu memisahkan, malah
semuanya melebur menjadi satu: ruang dan waktu saling berhimpitan.
Ada sejumlah teman, secara fisik sudah
sering saling bertemu. Secara digital, hampir setiap hari saling bersapa
melalui group WhatsApp. Artinya, dalam bersahabat masing-masing saling
melakukan interaksi berupa kata maupun tatap muka sambil ngopi, sesekali,
mungkin, gibah.
Rupanya, perjumpaan digital atau tatap
muka, bagi sejumlah sahabat ini belum cukup. Karena semua sahabat ini semua
pemuisi, yang memiliki jam terbang berbeda-beda, namun masing-masing tidak
menempatkan dirinya paling unggul, atau puisinya lebih baik dari yang lain.
Menulis puisi ya menulis puisi, begitu saja, tidak perlu memposisikan puisinya
lebih baik dari yang lain, meski pengalamanan lebih panjang. Mereka, para
sahabat itu melakukan perjumpaam dalam karya, daalam satu buku puisi.
Masing-masing mengirimkan 10 puisi.
Tema puisi bebas, dan disatukan dalam satu buku. Saya kira, perjumpaan karya
ini merupakan jenis perjumpaan yang kreatif, sekaligius dalam bersahabat
masing-masing saling menumbuhkan nyala kreativitas. Ini satu persahabatan yang
produktif, karena menghasilkan karya yang sama.
Agaknya, dalam bersahabat semua saling
tahu, bahwa ruang puisi di media sudah
sangat terbatas, kalau terlalu ekstrim disebut hilang. Rupanya para sahabat ini
memahami, bahwa ruang puisi dalam bentuk penerbitan buku tidak pernah lenyap.
Ia selalu muncul di ruang-ruang komunitas disangga dan dihidupi bersama. Di dalam
komunitas masing-masing saling bersahabat dan berkarya, terbuka pula bagi
penikmat dan pecinta sastra.
Selain itu, mereka tahu, bahwa puisi
tidak selalu bisa menghasilkan uang, dan mereka tetap menulis puisi. Karena
menulis puisi, yang utama, bukan untuk mencari uang. Melainkan untuk memberi
makna dalam hidupnya, dan puisi adalah cara bagaimana hidup memberi makna.
Tema puisi bebas, dan tidak harus
puisi baru. Hanya saja perlu dibatasi titi mangsa dalan karya puisi, yakni puisi
yang ditulis tahun 2022 – 2026, dan boleh sudah dipublikasikan di media apapun.
Batasan titi mangsa itu diperlukan, setidaknya untuk menunjukkan bahwa selama 5
tahun belakangan, masing-masing masih (terus) menulis puisi. Ini artinya,
kreativitas menulis puisi tidak berhenti.
Karena seringkali kita menemukan,
menulis puisi saat ada lomba, sesudah lomba selesai tidak lagi menulis puisi.
Atau menulis puisi karena ada panggilan antologi puisi bersama. Begitulah,
menulis puisi selalu ‘dalam rangka’, bukan karena menjaga tradisi menulis.
Awalnya, persahabatan ini terbentuk
karena sering bertemu di satu villa di Kaliurang. Di tempat ini saling ngobrol,
nyanyi-nyanyi, ngopi, makan bersama. Berulangkali pertemuan di Kaliurang
dilakukan, termasuk melakukan apa yang disebut sebagai upacara minum teh. Di
Villa Kaliurang ada pohon jeruk, yang sering dipetik untuk dinikmati, sehingga
kalau mengajak ke Kaliurang sering menggunakan kata sandi: tilik jeruk. Maka,
persahabatan itu akhirnya disebut sebagai komunitas tilih jeruk. Tidak permanen
sifatnya, hanya insidental. Buku puisi ini bukan untuk meneguhkan komunitas
tilik jeruk. Lebih sebagai menumbuhkan kreativitas dan menjaga persahabatan.
Karena tema puisi bebas, sehingga
ditemukan banyak tema dalam buku puisi ini, setidaknya bisa untuk mengerti,
bahwa persahabatan sangat kompleks dan kaya imajinasi, persis seperti
puisi-puisi dalam buku ini, imajinasinya beragam dan kompleksitas persoalannya
saling memberi warna.
Setiap pemuisi memiliki pengalaman hidup
yang berbeda, dan pengalaman tidak bisa saling diperbadingkan. Masing-masing
pengalaman saling melengkapi dan memperkaya.
Air Mata
Kata
Air mata kata
seperti padasan, ketika dibuka
penutupnya, air mengalir, sehingga siap untuk digunakan. Kreativitas seperti padasan
saat katupnya dibuka air akan mengalir. Setiap kali melihat momentum puitik, mata akan mengalirkan kata, sehingga puisi
terwujud. Persahabatan selalu akan bertukar pikiran, bertukar pengalaman semua
itu akan melahirkan kreativitas, dan bentuknya berupa karya. Puisi salah satu
bentuk karya itu.
Setiap
peristiwa, seringkali mengandung momentum puitik di dalamnya, dan pemuisi melihat momentum itu, maka
segera mengalirlah kata-kata menjadi puisi. Itulah air mata kata.
Judul buku puisi selain bisa
diambilkan dari salah satu puisi yang ada di dalam
buku, bisa pula
dibuat di luar judul buku, yang dibuat oleh editornya atau penyairnya. Jadi,
tidak ada keharusan mengambil dari salah satu judul puisi. Dalam buku puisi
ini, judul buku diambil dari salah satu puisi, karena judul puisi memberikan
nuansa puitik yang kuat, dan terasa enak untuk judul buku. Maka, dipilihlah puisi tersebut menjadi judul buku, bukan
berarti puisi tersebut paling baik di antara
puisi-puisi lainnya. Tak ada hubungannya sama sekali.
Memperkuat persahabatan
melalui puisi
Karya puisi masing-masing merupakan
cara bagaimana masing-masing saling menjaga dan menguatkan dalam persahabatan,
sehingga bisa dikatakan puisi merupakan media untuk melakukan hal itu. Karena
itu, jangan lelah menulis puisi. Karena menulis puisi, yang utama bukan untuk
menjadi penyair, melaikan untuk menjaga dan meneguhkan persahabatan. Predikat
penyair merupakan akibat bukan tujuan. Maka,
teruslah menulis puisi untuk memperluas persahabatan, (*)
