Skip to main content

Manuskrip Indonesia, Kumpulan Puisi Kebangsaan

 


Judul: Manuskrip Indonesia, Kumpulan Puisi Kebangsaan
Penulis: Abidin Fikri dkk
Editor:  Latief Noor Rochmans & Joshua Igho
Kurator: Yuliani Kumudaswari & Ninuk Retno  Raras
Supervisor: Ons Untoro
Isi: 14 X 20 cm, xxii +320 hlm 
Cetakan Pertama: Mei 2026
Penerbit: Tonggak Pustaka


 SAYA kira, ini kali pertama Sosialisasi 4 Pilar MPR RI menghasilkan buku puisi, yang dibingkai dalam tema kebangsaan. Selama saya menjalankan sosialisasi di berbagai daerah, tak disertai penulisan buku setelahnya.

Agaknya, karena Sosialisasi 4 Pilar MPR RI, yang di­selenggarakan di Yogyakarta bekerjasama dengan Ko­munitas Sastra Bulan Purnama. Satu komunitas, yang di dalamnya terdiri penyair dan pecinta sastra, yang tersebar di berbagai kota di Indonesia. Memang peserta yang ikut sosialisasi, kebanyakan penyair yang tinggal di Yogyakarta. Namun ada juga penyair yang tinggal di Karanganyar, Magelang, Temanggung, Solo, ikut dalam sosialisasi tersebut, karena mereka tergabung dalam Komunitas Sastra Bulan Purnama.

Seperti biasa, dalam sosialisasi ini saya menjelaskan mengenai apa itu 4 pilar MPR RI. Sebagai anggota MPR RI sosialisasi ini merupakan kewajiban konstitusional saya,  menyebarluaskan pemahaman empat landasan utama kehidupan berbangsa dan bernegara atau empat konsensus nasional, yaitu Pancasila sebagai dasar ne­gara, UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945 sebagai konstitusi Indonesia, Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagai bentuk Negara dan Bhinneka Tung­gal Ika sebagai semboyan negara. Penyebarluasan pe­mahaman konsep empat pilar MPR RI dimulai pada saat Ketua MPR RI Dr HM Taufiq Kiemas (2009-2013), dan masih terus berlanjut hingga sekarang.

Program ini bertujuan memperkuat visi kehidupan berbangsa dan bernegara, nasionalisme dan nilai-nilai konstitusional di tengah masyarakat Indonesia yang sangat beragam, baik dari segi etnis, budaya, bahasa dan agama. Serta mendiami 17.380 pulau dengan 718 bahasa daerah. Sosialisasi 4 Pilar MPR RI bersama Komunitas Sastra Bulan Purnama,  dan pemerhati seni budaya di Yogyakarta sangatlah relevan untuk pengayaan khasanah dalam sosialisasi MPR RI di tengah masyarakat.       

Rupanya, penyair yang ikut dalam penulisan puisi kebangsaan tidak hanya yang ikut sosialisasi. Oleh Komunitas Sastra Bulan Purnama diperluas penyair-penyair lain yang tinggal di berbagai kota di Indonesia, sehingga buku puisi ini menampilkan karya 142 penyair, yang dipilih dari sekitar 160-an penyair  yang mengirim puisi.

Yang dari luar Jawa misalnya penyair dari Pontianak, Lampung, Sumatra Selatan, Kalimantan, Sulawesi dan beberapa kota lain. Kebanyakan penyair dari Jawa: Banten, Jakarta, Semarang, Purbalingga, Cilacap, Purwokerto, Sragen, Surabaya, Madura sampai arah timur: Situbondo dan Banyuwangi. Ini artinya, penyair dari berbagai kota memiliki keprihatinan dengan problem kebangsaan kita.

 

Puisi Kebangsaan

Saya kira, Sumpah Pemuda merupakan puisi ke­bang­saan, yang menyatukan bangsa Indonesia. Sebelum Indonesia merdeka, puisi tersebut sudah dikenal bangsa dari berbagai etnis embrio bangsa Indonesia. Sampai hari ini, Sumpah Pemuda tidak lepas dari ingatan bangsa kita. Ia terus memberi inspirasi bagi banyak warga untuk terus mencintai Indonesia.

Puisi kebangsaan dalam buku ini, meski tidak banyak puisi yang menyertakan kata kebangsaan dan Indonesia. Namun semua puisi merekam berbagai persoalan  yang mendera bangsa ini, sehingga menunjukkan, bahwa para penyair peduli dengan problem kebangsaan.

Puisi kebangsaan memang tidak hanya ditaburi kata kebangsaan dan Indonesia. Berbagai problem kehidupan masyarakat, termasuk problem pemerintah berupa kebijakan untuk rakyat dan pelayanan birokrasi terhadap warganya, persoalan hutan, korupsi dan lainnya, bisa menjadi bahan penulisan puisi kebangsaan.

Saya kira, penyair memahami perihal itu. Kita ser­takan satu puisi karya Eko Tunas, penyair yang sejak tahun 1970-an sudah bergumul dengan puisi. Sekarang tinggal di Semarang. Puisi ini setidaknya bisa untuk mengerti  persoalan kebangsaan bukan masalah seder­ha­na, melainkan persoalan yang kompleks.

 

Eko Tunas

Revolusi dan Reformasi

 

Bertanya seorang anak kepada ayahnya

Apa itu revolusi

Sang ayah menjawab

Revolusi mencabut pohon seakarnya

Afrizal pun melap botaknya dengan hutan

Maksudnya pohon yang telah menjadi tisu.

 

Bertanya seorang anak kepada ayahnya

Apa itu reformasi

Sang ayah menjawab

Reformasi mencabuti rumput di dalam hutan

Ebiet pun bertanya

Kepada rumput yang bergoyang

Sapardi meralat, mestinya alang-alang

Sebab mana mungkin rumput bergoyang

Lihatlah ilalang yang bergoyang itu.

 

Itu sebabnya barangkali

Politik bergoyang

Ekonomi bergoyang

Hukum bergoyang

Kebudayaan bergoyang

Ilmu bergoyang

Keyakinan bergoyang

Biduan dangdut bergoyang

Semua berpesta

Merayakan reformasi.

 

Si anak pun bertanya

Mengapa semua bergoyang

Sang ayah menjawab

Sebab sampai kapan

Mencabuti rumput di dalam hutan...

 

April 2025

 

 

Manuskrip Indonesia

Kata manuskrip dalam judul buku puisi ini mem­berikan imajinasi pada teks kuna. Sekaligus kata ini memberikan arah pemahaman, bahwa persoalan ke­bangsaan kita tidak pernah tuntas sejak sebelum Indonesia merdeka, sampai hari ini, persoalan ke­bang­saan itu terus menyertai.

Bahwa Indonesia memiliki narasi sejarah, dan meng­alami penjajahan cukup panjang. Sebagai bangsa merdeka, setidaknya dari Proklamasi Kemerdekaan yang dibacakan. Dalam narasi sejarah, Nusantara ter­di­ri dari beragam kerajaan di daerah masing-masing. Setiap kerajaan memiliki kekuasaannya sendiri.  Sampai terbentuknya Indonesia, kerajaan-kerajaan di Nusantara sudah hilang, tinggal satu kerajaan yang tegak berdiri.

Indonesia adalah satu konstruksi, yang oleh Ben Anderson disebut sebagai komunitas terbayang. Sebagai konstruksi satu bangsa, Indonesia disangga  daerah-daerah, yang pernah disebut dari Sabang sampai Merauke. Dalam kata lain, Indonesia sebagai satu bangsa disangga keberagaman yang dimiliki setiap daerah, dan dikenal yang disebut Bhinneka Tunggal Ika: berbeda-beda tetapi tetap satu.

Manuskrip Indonesia adalah kumpulan puisi yang ditulis penyair berbagai daerah, yang tinggal di Jawa dan luar Jawa. Dalam perbedaan tempat tinggal, semuanya adalah satu: penyair. Semua penyair menulis puisi yang dibingkai tema kebangsaan.

Maka, buku puisi ini adalah teks Indonesia, yang merekam berbagai persoalan kebangsaan. Karena itu, buku ini perlu dibaca setiap anak bangsa, lebih-lebih bagi para legislatif.

Selamat kepada para penyair. Kali lain, saya kira perlu ada Sosialisasi 4 Pilar MPR RI lagi, dan menghasilkan buku lain lagi. (*)