Agaknya, karena Sosialisasi 4 Pilar MPR RI,
yang diselenggarakan di Yogyakarta bekerjasama dengan Komunitas Sastra Bulan
Purnama. Satu komunitas, yang di dalamnya terdiri penyair dan pecinta sastra,
yang tersebar di berbagai kota di Indonesia. Memang peserta yang ikut
sosialisasi, kebanyakan penyair yang tinggal di Yogyakarta. Namun ada juga
penyair yang tinggal di Karanganyar, Magelang, Temanggung, Solo, ikut dalam
sosialisasi tersebut, karena mereka tergabung dalam Komunitas Sastra Bulan
Purnama.
Seperti biasa, dalam sosialisasi ini saya
menjelaskan mengenai apa itu 4 pilar MPR RI. Sebagai anggota MPR RI sosialisasi
ini merupakan kewajiban konstitusional saya,
menyebarluaskan pemahaman empat landasan utama kehidupan berbangsa dan
bernegara atau empat konsensus nasional, yaitu Pancasila sebagai dasar negara,
UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945 sebagai konstitusi Indonesia, Negara
Kesatuan Republik Indonesia sebagai bentuk Negara dan Bhinneka Tunggal Ika
sebagai semboyan negara. Penyebarluasan pemahaman konsep empat pilar MPR RI
dimulai pada saat Ketua MPR RI Dr HM Taufiq Kiemas (2009-2013), dan masih terus
berlanjut hingga sekarang.
Program ini bertujuan memperkuat visi
kehidupan berbangsa dan bernegara, nasionalisme dan nilai-nilai konstitusional
di tengah masyarakat Indonesia yang sangat beragam, baik dari segi etnis,
budaya, bahasa dan agama. Serta mendiami 17.380 pulau dengan 718 bahasa daerah.
Sosialisasi 4 Pilar MPR RI bersama Komunitas Sastra Bulan Purnama, dan pemerhati seni budaya di Yogyakarta
sangatlah relevan untuk pengayaan khasanah dalam sosialisasi MPR RI di tengah
masyarakat.
Rupanya, penyair yang ikut dalam penulisan
puisi kebangsaan tidak hanya yang ikut sosialisasi. Oleh Komunitas Sastra Bulan
Purnama diperluas penyair-penyair lain yang tinggal di berbagai kota di
Indonesia, sehingga buku puisi ini menampilkan karya 142 penyair, yang dipilih
dari sekitar 160-an penyair yang
mengirim puisi.
Yang dari luar Jawa misalnya penyair dari
Pontianak, Lampung, Sumatra Selatan, Kalimantan, Sulawesi dan beberapa kota
lain. Kebanyakan penyair dari Jawa: Banten, Jakarta, Semarang, Purbalingga,
Cilacap, Purwokerto, Sragen, Surabaya, Madura sampai arah timur: Situbondo dan
Banyuwangi. Ini artinya, penyair dari berbagai kota memiliki keprihatinan
dengan problem kebangsaan kita.
Puisi Kebangsaan
Saya kira, Sumpah Pemuda merupakan puisi
kebangsaan, yang menyatukan bangsa Indonesia. Sebelum Indonesia merdeka,
puisi tersebut sudah dikenal bangsa dari berbagai etnis embrio bangsa
Indonesia. Sampai hari ini, Sumpah Pemuda tidak lepas dari ingatan bangsa kita.
Ia terus memberi inspirasi bagi banyak warga untuk terus mencintai Indonesia.
Puisi kebangsaan dalam buku ini, meski
tidak banyak puisi yang menyertakan kata kebangsaan dan Indonesia. Namun semua
puisi merekam berbagai persoalan yang
mendera bangsa ini, sehingga menunjukkan, bahwa para penyair peduli dengan
problem kebangsaan.
Puisi kebangsaan memang tidak hanya
ditaburi kata kebangsaan dan Indonesia. Berbagai problem kehidupan masyarakat,
termasuk problem pemerintah berupa kebijakan untuk rakyat dan pelayanan
birokrasi terhadap warganya, persoalan hutan, korupsi dan lainnya, bisa menjadi
bahan penulisan puisi kebangsaan.
Saya kira, penyair memahami perihal itu.
Kita sertakan satu puisi karya Eko Tunas, penyair yang sejak tahun 1970-an
sudah bergumul dengan puisi. Sekarang tinggal di Semarang. Puisi ini setidaknya
bisa untuk mengerti persoalan kebangsaan
bukan masalah sederhana, melainkan persoalan yang kompleks.
Eko Tunas
Revolusi dan Reformasi
Bertanya
seorang anak kepada ayahnya
Apa itu
revolusi
Sang ayah
menjawab
Revolusi
mencabut pohon seakarnya
Afrizal pun
melap botaknya dengan hutan
Maksudnya pohon
yang telah menjadi tisu.
Bertanya
seorang anak kepada ayahnya
Apa itu
reformasi
Sang ayah
menjawab
Reformasi
mencabuti rumput di dalam hutan
Ebiet pun
bertanya
Kepada rumput
yang bergoyang
Sapardi
meralat, mestinya alang-alang
Sebab mana
mungkin rumput bergoyang
Lihatlah
ilalang yang bergoyang itu.
Itu sebabnya
barangkali
Politik
bergoyang
Ekonomi
bergoyang
Hukum bergoyang
Kebudayaan
bergoyang
Ilmu bergoyang
Keyakinan
bergoyang
Biduan dangdut
bergoyang
Semua berpesta
Merayakan
reformasi.
Si anak pun
bertanya
Mengapa semua
bergoyang
Sang ayah
menjawab
Sebab sampai
kapan
Mencabuti
rumput di dalam hutan...
April 2025
Manuskrip Indonesia
Kata manuskrip dalam judul buku puisi ini
memberikan imajinasi pada teks kuna. Sekaligus kata ini memberikan arah
pemahaman, bahwa persoalan kebangsaan kita tidak pernah tuntas sejak sebelum
Indonesia merdeka, sampai hari ini, persoalan kebangsaan itu terus menyertai.
Bahwa Indonesia memiliki narasi sejarah,
dan mengalami penjajahan cukup panjang. Sebagai bangsa merdeka, setidaknya
dari Proklamasi Kemerdekaan yang dibacakan. Dalam narasi sejarah, Nusantara
terdiri dari beragam kerajaan di daerah masing-masing. Setiap kerajaan
memiliki kekuasaannya sendiri. Sampai
terbentuknya Indonesia, kerajaan-kerajaan di Nusantara sudah hilang, tinggal
satu kerajaan yang tegak berdiri.
Indonesia adalah satu konstruksi, yang oleh
Ben Anderson disebut sebagai komunitas terbayang. Sebagai konstruksi satu
bangsa, Indonesia disangga
daerah-daerah, yang pernah disebut dari Sabang sampai Merauke. Dalam
kata lain, Indonesia sebagai satu bangsa disangga keberagaman yang dimiliki
setiap daerah, dan dikenal yang disebut Bhinneka Tunggal Ika: berbeda-beda
tetapi tetap satu.
Manuskrip Indonesia adalah kumpulan puisi yang ditulis penyair berbagai daerah, yang
tinggal di Jawa dan luar Jawa. Dalam perbedaan tempat tinggal, semuanya adalah
satu: penyair. Semua penyair menulis puisi yang dibingkai tema kebangsaan.
Maka, buku puisi ini adalah teks Indonesia,
yang merekam berbagai persoalan kebangsaan. Karena itu, buku ini perlu dibaca
setiap anak bangsa, lebih-lebih bagi para legislatif.
Selamat kepada para penyair. Kali lain,
saya kira perlu ada Sosialisasi 4 Pilar MPR RI lagi, dan menghasilkan buku lain
lagi. (*)
