Saya kira, lansia mengalami apa yang
dikenali sebagai terpisahnya ruang dan waktu. Pada tahun 1970an, orang saling
sapa dan tinggal di kota berbeda, antara Jakarta-Yogyakarta misalnya,
memerlukan waktu berhari-hari dengan kirim surat dan menunggu balasan. Atau
harus meninggalkan Jakarta (ruang) menuju Yogya (ruang). Keduanya memerlukan
waktu berbeda.
DALAM situasi seperti diatas, lansia yang
tubuhnya sudah mulai renta, lebih-lebih usianya di atas 70 tahun, sudah
kesulitan menempuh dua ruang yang berbeda, dan memerlulkan waktu tidak
sebentar. Pada masa itu, lansia seperti ‘terasing’, dan lansia pada masa itu,
terlihat sudah renta. Tubuhnya tidak lagi kuat, dan biasanya diperlukan tongkat
penyangga untuk berjalan, dalam bahasa Jawa disebut teken.
Dengan demikian lansia betul-betul
sebagai simbah/kakek/eyang, yang tak lagi ada ruang untuk bekerja. Aktivitasnya
sebatas momong cucu. Aktivitas yang menyertakan fisik dibatasi, paling-paling
hanya jalan kaki pelan-pelan. Mobilitasnya terbatas, sering menunggu bantuan
orang lain, misalnya dijemput anak.
Sebut saja, hal di atas merupakan lansia
tempo doeloe. Kemajuan teknologi belum masuk secara jauh.
Lansia dan Media Digital
Ini ada para lansia, yang usianya di atas
60 tahun, ada juga di atas 70 tahun. Yang tidak lagi hidup di zaman tempo
doeloe, melainkan mengalami era digital, yang menjalani hidup bersama generasi
milenial. Para lansia ini, salah satunya mempunyai aktivitas menulis. Aktivitas
ini terus dilakukan, sampai usianya sudah mulai menua.
Karena lansia menjalani hidup di era
digital. Ruang dan waktu tak lagi terpisah. Bahkan keduanya berhimpitan. Pada
saat yang sama, karena ada jaringan wifi, seorang lansia bisa berkomunikasi
kepada relasinya di tempat berbeda pada waktu dan ruang yang sama, sehingga seolah ruang-ruang itu
tidak saling terpisah. Misalnya, pada jam 15.00 melalui whatsApp, seorang lansia menghubungi anaknya yang tinggal
di Jakarta. Dia sendiri tinggal di Yogya. Sekaligus dia juga menghubungi
adiknya yang tinggal di Surabaya. Tiga ruang, Yogya, Jakarta dan Surbaya
seperti tidak saling terpisah, dan lansia tersebut tidak perlu meninggalkan
Yogya untuk bersapa.
Pengalaman di era digital seperti itu,
dituliskan oleh para lansia di dalam buku, yang diberi judul ‘Aku Terkoneksi,
Maka Aku Ada’. Mengingatkan Cogito,
ergo sum, dari seorang filsuf Perancis Rene Descartes. Dari
tulisan-tulisan ini, terlihat sekali, dalam usia yang tak lagi muda, para
lansia tidak sepenuhnya terasing dari media digital. Bahkan mengakrabinya. Ada
banyak jenis media digital, dan lansia tidak semua mengaskesnya. Setidaknya
beberapa media digital yang diaksesnya bisa untuk berkomunikasi dengan
relasinya, yang tinggal di ruang berbeda-beda.
Dari banyak media sosial, di tengah arus
media digital, yang akrab digunakan lansia ialah WhatsApp, Instagram, Facebook,
Youtube, Tik Tok, Reels. Media sosial ini seperti meneguhkan dari judul buku,
terutama pada kata ‘Aku Ada’.
Pada media sosial disebut di atas, lansia
seolah tidak mau kalah dengan generasi milenial, sebut saja generasi cucunya.
Tidak harus bersaing, melainkan ikut hadir ditengah khalayak digital, sambil,
lagi-lagi meneguhkan: Aku Ada.
Hadirnya media digital, saya kira
menguntungkan bagi lansia. Setidaknya, lansia hari ini, berbeda dengan lansia
dari 50an tahun lalu, untuk saling bersaapa mmbutuhkan waktu lama, dan harus
meninggalkan ruang, untuk menuju ruang yang lain. Sebut saja, lansia digital
adalah lansia yang diberkahi zaman, sekaligus harus belajar dari anaknya, atau
malah cucunya.
Lansia digital tak lagi susah keluar
rumah membeli makan, cukup menggunakan aplikasi gofood untuk mendapatkan
makanan yang dikehendaki. Lansia tidak perlu berdiri di tepi jalan untuk
menunggu dan menyetop angkutan umum. Gadged yang dipegangnya sudah tersedia
aplikasi kendaraan untuk mengantar kemana akan pergi.
Pendek kata, hidup lansia dimudahkan di
era digital.
Lansia Dalam Jaringan
Karena lansia selalu berada dalam satu
momentum yang dikenali sebagai conecting, sehingga lansia tidak pernah merasa
kesepian. Melalui gadgednya, lansia berada dalam jaringan, sehingga seolah
selalu berada dalam kerumunan. Padahal masing-masing tinggal di tempat berbeda,
dan masing-masing saling bertegur sapa, misalnya melalui grup whatsApp, atau
yang sering disebut sebagai grup WA.
Saya kira, grup WA merupakan bentuk dari
kerumunan. Anggotanya bisa sesama lansia, namun bisa pula beragam, artinya
campuran dari lansia, anak muda, dan mungkin remaja. Satu lansia bisa memiliki
banyak grup WA, artinya memiliki banyak
kerumunan.
Para lansia yang menulis dalam buku ini,
saya kira masing-masing memiliki kerumunan yang berbeda, dan ada satu kerumunan
yang sama untuk saling bertegur sapa. Namun, seringkali ditemuukan, kerumunan
tidak selalu riuh, karena yang ada di dalam grup WA tidak semuanya aktif, dan
memang tidak ada keharusan aktif. Karena itu, kerumunan dalan grup WA sifatnya
ilusif. Ia ada sekaligus tiada. Ada karena memang forumnya tersedia, tiada
karena seringkali hanya ‘terlihat’.
Begitulah digitalisasi. Seolah tampak
nyata, namun sekejap akan segera lenyap digantikan visual lainnya. Seolah
benar, padahal diciptakan. Tetapi, para lansia yang menulis dalam buku ini,
sungguh nyata. Tidak ilusif, melainkan kreatif. Mereka tidak terasing dari
serba digital, meski yang serba digital tidak semua bisa diaksesnya.
Satu hal yang pasti, di tengah laju
digital tak bisa dihentikan, lansia masih terus kreatif menulis. Dengan senang
hati saya mendukungnya. Selamat bagi para lansia yang menulis dalam buku ini:
Aku Terkoneksi, Maka Aku Ada. (*)
