Skip to main content

Aku Terkoneksi Maka Aku Ada, Kumpulan Esai

 



Judul: Aku Terkoneksi Maka Aku Ada, Kumpulan Esai
Penulis: Harris Susanto dkk
Editor: Ons Untoro, Indro Suprobo
Isi: 14 X 20 cm, x +228 hlm 
Cetakan Pertama: Mei 2026
Penerbit: Tonggak Pustaka

Saya kira, lansia mengalami apa yang dikenali sebagai terpisahnya ruang dan waktu. Pada tahun 1970an, orang saling sapa dan tinggal di kota berbeda, antara Jakarta-Yogyakarta misalnya, memerlukan waktu berhari-hari dengan kirim surat dan menunggu balasan. Atau harus meninggalkan Jakarta (ruang) menuju Yogya (ruang). Keduanya memerlukan waktu berbeda.

DALAM situasi seperti diatas, lansia yang tubuhnya sudah mulai renta, lebih-lebih usianya di atas 70 tahun, sudah kesulitan menempuh dua ruang yang berbeda, dan memerlulkan waktu tidak sebentar. Pada masa itu, lansia seperti ‘terasing’, dan lansia pada masa itu, terlihat sudah renta. Tubuhnya tidak lagi kuat, dan biasanya diperlukan tongkat penyangga untuk berjalan, dalam bahasa Jawa disebut teken.

Dengan demikian lansia betul-betul sebagai simbah/kakek/eyang, yang tak lagi ada ruang untuk bekerja. Aktivitasnya sebatas momong cucu. Aktivitas yang menyertakan fisik dibatasi, paling-paling hanya jalan kaki pelan-pelan. Mobilitasnya terbatas, sering menunggu bantuan orang lain, misalnya dijemput anak.

Sebut saja, hal di atas merupakan lansia tempo doeloe. Kemajuan teknologi belum masuk secara jauh.

 

Lansia dan Media Digital

Ini ada para lansia, yang usianya di atas 60 tahun, ada juga di atas 70 tahun. Yang tidak lagi hidup di zaman tempo doeloe, melainkan mengalami era digital, yang menjalani hidup bersama generasi milenial. Para lansia ini, salah satunya mempunyai aktivitas menulis. Aktivitas ini terus dilakukan, sampai usianya sudah mulai menua.

Karena lansia menjalani hidup di era digital. Ruang dan waktu tak lagi terpisah. Bahkan keduanya berhimpitan. Pada saat yang sama, karena ada jaringan wifi, seorang lansia bisa berkomunikasi kepada relasinya di tempat berbeda pada waktu dan ruang  yang sama, sehingga seolah ruang-ruang itu tidak saling terpisah. Misalnya, pada jam 15.00 melalui whatsApp,  seorang lansia menghubungi anaknya yang tinggal di Jakarta. Dia sendiri tinggal di Yogya. Sekaligus dia juga menghubungi adiknya yang tinggal di Surabaya. Tiga ruang, Yogya, Jakarta dan Surbaya seperti tidak saling terpisah, dan lansia tersebut tidak perlu meninggalkan Yogya untuk bersapa.

Pengalaman di era digital seperti itu, dituliskan oleh para lansia di dalam buku, yang diberi judul ‘Aku Terkoneksi, Maka Aku Ada’.  Mengingatkan Cogito, ergo sum, dari seorang filsuf Perancis Rene Descartes. Dari tulisan-tulisan ini, terlihat sekali, dalam usia yang tak lagi muda, para lansia tidak sepenuhnya terasing dari media digital. Bahkan mengakrabinya. Ada banyak jenis media digital, dan lansia tidak semua mengaskesnya. Setidaknya beberapa media digital yang diaksesnya bisa untuk berkomunikasi dengan relasinya, yang tinggal di ruang berbeda-beda.

Dari banyak media sosial, di tengah arus media digital, yang akrab digunakan lansia ialah WhatsApp, Instagram, Facebook, Youtube, Tik Tok, Reels. Media sosial ini seperti meneguhkan dari judul buku, terutama pada kata ‘Aku Ada’.

Pada media sosial disebut di atas, lansia seolah tidak mau kalah dengan generasi milenial, sebut saja generasi cucunya. Tidak harus bersaing, melainkan ikut hadir ditengah khalayak digital, sambil, lagi-lagi meneguhkan: Aku Ada.

Hadirnya media digital, saya kira menguntungkan bagi lansia. Setidaknya, lansia hari ini, berbeda dengan lansia dari 50an tahun lalu, untuk saling bersaapa mmbutuhkan waktu lama, dan harus meninggalkan ruang, untuk menuju ruang yang lain. Sebut saja, lansia digital adalah lansia yang diberkahi zaman, sekaligus harus belajar dari anaknya, atau malah cucunya.

Lansia digital tak lagi susah keluar rumah membeli makan, cukup menggunakan aplikasi gofood untuk mendapatkan makanan yang dikehendaki. Lansia tidak perlu berdiri di tepi jalan untuk menunggu dan menyetop angkutan umum. Gadged yang dipegangnya sudah tersedia aplikasi kendaraan untuk mengantar kemana akan pergi.

Pendek kata, hidup lansia dimudahkan di era digital.

 

Lansia Dalam Jaringan

Karena lansia selalu berada dalam satu momentum yang dikenali sebagai conecting, sehingga lansia tidak pernah merasa kesepian. Melalui gadgednya, lansia berada dalam jaringan, sehingga seolah selalu berada dalam kerumunan. Padahal masing-masing tinggal di tempat berbeda, dan masing-masing saling bertegur sapa, misalnya melalui grup whatsApp, atau yang sering disebut sebagai grup WA.

Saya kira, grup WA merupakan bentuk dari kerumunan. Anggotanya bisa sesama lansia, namun bisa pula beragam, artinya campuran dari lansia, anak muda, dan mungkin remaja. Satu lansia bisa memiliki banyak grup WA,  artinya memiliki banyak kerumunan.

Para lansia yang menulis dalam buku ini, saya kira masing-masing memiliki kerumunan yang berbeda, dan ada satu kerumunan yang sama untuk saling bertegur sapa. Namun, seringkali ditemuukan, kerumunan tidak selalu riuh, karena yang ada di dalam grup WA tidak semuanya aktif, dan memang tidak ada keharusan aktif. Karena itu, kerumunan dalan grup WA sifatnya ilusif. Ia ada sekaligus tiada. Ada karena memang forumnya tersedia, tiada karena seringkali hanya ‘terlihat’.

Begitulah digitalisasi. Seolah tampak nyata, namun sekejap akan segera lenyap digantikan visual lainnya. Seolah benar, padahal diciptakan. Tetapi, para lansia yang menulis dalam buku ini, sungguh nyata. Tidak ilusif, melainkan kreatif. Mereka tidak terasing dari serba digital, meski yang serba digital tidak semua bisa diaksesnya.

Satu hal yang pasti, di tengah laju digital tak bisa dihentikan, lansia masih terus kreatif menulis. Dengan senang hati saya mendukungnya. Selamat bagi para lansia yang menulis dalam buku ini: Aku Terkoneksi, Maka Aku Ada. (*)