Skip to main content

Posts

Kembang Belukar

  Kembang Belukar merupakan antologi puisi karya Yuliani Kumudaswari yang ke sekian kalinya. Ini menunjukkan bahwa Yuliani merupakan penyair yang produktif dan setia menulis puisi. Kembang  Belukar ini berisi 100 buah puisi yang semuanya merupakan cara bagaimana penulisnya membaca pengalaman yang dijumpainya, merefleksikannya, dan menuangkannya dalam pilihan-pilihan kata figuratif yang mengasyikkan dan matang. Se-luruh tangkapan tentang pengalaman itu diungkapkan dengan me-ngambil tema kembang atau bunga sebagai pilihan figuratifnya.  Ketika membaca antologi puisi yang terdiri dari seratus buah karya ini, pembaca dapat menemukan dan merasakan betapa proses kreatif dalam penulisan puisi ini sungguh luar biasa. Ini merupakan usaha yang tidak mudah. Menarasikan pengalaman unik tertentu dengan pilihan kata figuratif bertemakan kembang atau bunga, bukanlah proses yang mudah. Ini menuntut imajinasi yang luar biasa dan kreativitas asosiatif yang sangat serius. Menariknya, piliha...

Puisi Rupa, Rupa Puisi

  Menulis puisi dan melukis memang dua hal yang berbeda, tetapi sesungguhnya berawal dari titik pijak yang sama: ialah dari gagasan dengan variasi istilah berbeda-beda, ide, inspirasi, ilham dan lainnya. Dalam kata lain, karya tidak lahir dari ruang kosong. Perbedaan keduanya terletak pada visual yang dipilih. Pe-nyair memilih kata, perupa menggunakan garis. Selebihnya, sebagai karya seni bisa disebut sama, hanya bentuknya ber-beda. Garis memang tidak linear, ia bisa bergerak seolah hidup dan mencipta bentuk. Dalam garis juga ditemukan warna, sehingga garisnya tidak tunggal. Kalau garis dalam seni lukis diganti dengan kata, maka kata tidak tunggal, selalu berkaitan dengan kata lainnya sehingga dikenali sebagai ka-limat, dan kalimat selalu memiliki makna. Maka, makna yang dibangun dalam puisi, seperti garis dan warna dalam karya lukis, mengandung makna. Formula garis dan kata adalah operasionalisasi dari apa yaang di atas disebut sebagai gagasan/ide/inspirasi/ilham. 10 perupa peremp...

Hujan Pertama di Bulan Purnama

  Penerbitan buku puisi seri sastra tembi sudah memasuki periode 4, ini artinya sudah 4 tahun Tembi Rumah Budaya menerbitkan buku puisi, yang puisi-puisinya pernah di-muat, awalnya di tembi.net dan kemudian beralih ke tembi-rumahbudaya.com. Sejak membuka ruang sastra pada me-dia online yang dikelola, Tembi Rumah Budaya memang telah memiliki komitmen, dan selalu mempublikasikan se-tiap tayangan puisi, yang muncul tiap hari Jumat. Bahwa puisi yang ditayang setiap bulan Mei akan diterbitkan menjadi buku, dan diluncurkan di Sastra Bulan Purnama. Komitmen tersebut telah dimengerti para pengirim puisi untuk ditayang di media online yang dikelola Tembi. Selama satu tahun, puisi-puisi yang sudah ditayang tiap hari Jumat akan diterbitkan, dan komitmen itu selalu dipenuhi oleh Tembi, sehingga setiap bulan Mei, terbit buku puisi, dari puisi-puisi yang sudah ditayang sampai bulan April. Mengapa diambil bulan Mei untuk menerbitkan buku puisi seri sastra tembi? Sederhana saja hal yang mendasarin...

Suriname di Mata Diplomat, Sisi Imigran Jawa

  Saya tidak menyangka kalau suatu saat akan bertugas ke  Suriname. Suriname merupakan kata yang tidak asing lagi, karena ada Mas Sumitro, mahasiswa IKIP Sanata Dharma yang indekos di rumah pada waktu kecil di Yogyakarta. Mas Sumitro lahir di Suriname dan ikut orangtuanya kem-bali ke Indonesia dalam rombongan program repatriasi ta-hun 1954. Rombongan yang berjumlah 1000 orang Jawa Suriname ini ditempatkan oleh pemerintah Indonesia di Tongar, Sumatera Selatan. Sejauh saya tahu, tidak banyak buku mengenai Suriname yang ditulis oleh orang Indonesia, yaitu hanya buku berjudul “Indonesia” pada Pantai Lautan Atlantik, karangan Dr. Yusuf Ismael terbitan 1954 dan “The Javanese in Suriname: ethnicity in an ethnically plural society“ ditulis oleh Dr. Parsudi Suparlan terbitan pertama tahun 1976 dan terbitan terakhir tahun 1995. Berbeda dengan kedua buku yang bersifat ilmiah tersebut, buku ini lebih bernuansa human interest sesuai dengan interaksi saya dengan berbagai komunitas di Surina...

Teka-teki Abadi

  Sebagai penyair, Marjuddin Suaeb, meski tidak memiliki laptop atau computer PC, masih terus melakukan kegiatan menulis puisi, bahkan puisinya mengalir seperti sungai Progo. Mungkin karena dia tinggal di Lendah, Kulonprogo, sehingga mendapat inspirasi dari sana. Bagaimana Marjuddin menulis puisi kalau tidak memiliki perangkat computer? Inilah yang menarik. Marjuddin menulis puisi melalui HP sehingga ketika HP-nya hilang, dan ini pernah dialamimya, semua puisinya ikut hilang. Marjuddin memang sudah lama menulis puisi. Sejak pertengahan tahun 1970-an dia sudah menulis puisi. Ia ju-ga ikut Persada Studi Klub asuhan Umbu Landu Paranggi. Ketika dia kuliah di IKIP Negeri Yogyakarta, sekarang UNY, ia seperti mendapatkan atmosfir untuk menulis, selain teman-temannya satu jurusan banyak yang menulis puisi, pergaulan di Yogya memberi semangat untuk rajin menulis puisi, dan pada waktu itu media cetak memberi ruang untuk puisi, se-hingga menumbuhkan gairah Marjudin menulis puisi. Marjuddin Su...

Sepatu Ukuran Kupu

  Di kalangan penyair Yogya, meskipun lama tidak muncul di publik, nama Fauzie Absal sudah cukup dikenal, lebih-lebih penyair seangkatannya, atau penyair yang mulai tumbuh tahun 1980-an. Fauzie menulis puisi sudah sejak tahun 1970-an. Pada tahun itu di Yogya ada satu komunitas yang dikenal dengan nama Persada Studi Klub, atau sering disingkat PSK, asuhan Umbu Landu Paranggi, yang sekarang bermukim di Bali. Puisi-puisi Fauzie di masa PSK pernah masuk Sabana. Penyair muda yang tumbuh di era media sosial, kiranya juga mengenal nama Fauzie Absal. Di Persada Studi Klub, Fauzie seangkatan Emha Ainun Najib, Sutirman Eka Ardhana, (alm) Linus Suryadi AG., (alm) Slamet Riyadi Sabrawi, dan sejumlah penyair lainnya, yang kemudian meninggalkan Yogya, dan memilih Jakarta sebagai tempat untuk mengembangkan karier kepenyairannya. Bebe-rapa nama disebut di atas, sampai akhir hayatnya masih tetap tinggal di Yogya. Fauzie sehari-harinya bekerja sebagai pengrajin sepatu, terkadang juga menerima terjem...

Kebatinan dan Pusaka Bung Karno

  Kehidupan tokoh besar menarik untuk disimak, apalagi ka-lau dia adalah kepala negara besar, baik yang masih menjabat, ataupun yang sudah tiada. Demikian pula halnya dengan Presiden Pertama, sekaligus Sang Proklamator Bangsa ini yakni Presiden Ir. Soekarno atau yang dikenal akrab dengan sebutan Bung Karno. Tentang pribadi dan kehidupannya sudah banyak diulas dalam autobiografinya. Demikian juga pandangan dan aspek kehidupan yang lain. Tetapi hingga kini saya belum menemukan tulisan Bung Karno yang bertalian dengan Kejawen dan mengenai pusaka-pu-saka pegangan yang dipunyai oleh Bung Karno serta bagaimana memahaminya, baik ketika masih berjuang maupun ketika sudah menjabat sebagai presiden. Meskipun beberapa majalah ibukota dan daerah mencoba memburu pusaka Soekarno tetapi sebagian besar belum terkuak. Tampaknya untuk masalah yang satu ini tidak banyak diketa-hui atau bahkan semacam ditabukan oleh masyarakat umum, lantaran semuanya mengandung misteri, yang susah untuk menjawabnya. T...

Kembang Setaman (Geguritan)

  Assalamu’alaikum Warohmatullahi Wabarokatuh. Langkung rumiyin ngaturaken puji klawan syukur kunjuk dhumateng ngarsanipun Gusti Allah ingkang Murbeng Gesang, awit sih nugraha-nipun dhumateng kula lan panjenengan sami. Kula angupadi cara kados pundi supados saged memetri Basa Jawa tetep lestari. Inggih menika kedah wonten sarana murih gampilipun mangertosi kawruh Basa Jawa.  Ngaturaken agunging panuwun dhumateng para kadang Alumni SMPN Sanden 1974 ingkang dipun sesepuhi dening Mas Ir. Subiyanto Hadi, MM., ingkang sampun paring wekdal kagem pepanggihan reuni ngantos dados geguritan menika. Ngaturaken agunging panuwun dhumateng para kadang Paguyuban Sastra Jawa Bantul Paramarta ingkang dipun sesepuhi dening Bapak Bambang Nugroho, S.H. ingkang sampun paring inspirasi ngantos dados geguritan menika. Ngaturaken agunging panuwun dhumateng Minggon Basa Jawa Djaka Lodang. Ngaturaken agunging panuwun dhumateng Minggon Basa Jawa Jaya Baya. Ingkang sampun kersa nampi geguritan kula ugi c...

Kepada Paitua

  Di era digital sekarang ini, kita melihat menyusutnya ru-ang sastra yang disediakan media cetak, dan para penyair mu-da yang tumbuh di era digital, menyerbu ruang sastra yang disediakan oleh media on line, meskipun juga tetap ‘berebut’ ruang sastra yang masih tersedia di beberapa media cetak. Jadi, kita bisa melihat penyair di era digital memiliki fasi-litas yang sama sekali lain dengan penyair yang tumbuh di era media cetak. Media untuk mempublikasikan berbeda, tetapi, mungkin, semangat untuk berkaryanya tidak jauh berbeda. Selain menyerbu media on line yang memberi ruang sastra, para penyair juga bersama mengikuti penerbitan antologi ber-sama, yang prosesnya melalui kurasi. Dalam konteks antologi puisi bersama, penyair muda era digital, mungkin lebih tepat disebut penyair digital, karena yang muncul di media digital dari segi usia tidak lagi muda, namun proses kepenyairannya tumbuh di era digital. Diulangi: dalam konteks antologi puisi bersama, antara penyair era digital dan pe...

Mata Air Hujan

  Periode 3 sastra tembi.net di tahun 2020 ini, menampilkan 50 penyair dari sejumlah penyair yang mengirim puisi. Padahal, setiap penyair diminta mengirim lebih dari 5 puisi untuk diseleksi. Dari pengiriman terhitung mulai Mei 2019 – April 2020, lebih dari 50 penyair yang masuk. Jumlah 50 penyair adalah yang sudah ditayang setiap jumat di rubrik sastra tembi.net. Kalau seorang penyair mengirim 10 puisi, ada juga yang mengirim lebih dari 10 puisi, dan ada yang mengirim 6 atau 7 puisi. Anggap saja, dirata-rata penyair pengirim 7 puisi dikalikan jumlah penyair yang mengirim. Jadi, lebih dari 400 puisi yang masuk dan semua harus dibaca, yang tidak bisa masuk periode 3, tetapi sudah lolos seleksi akan diikutkan pada periode berikunya, yang tidak lolos, masih ditunggu (terus) puisi-puisi yang lain. Membaca puisi-puisi yang masuk, dan melihat puisi-puisi penyair lainnya dipublikasikan di media cetak, dan juga di media online lainnya, termasuk puisi yang di-upload di media sosial, saya mel...