Skip to main content

Posts

Penyair dan Rembulan, Antologi Puisi 60 Penyair

Mencipta Peristiwa Budaya Penyair dan Rembulan , adalah antologi puisi karya 60 penyair yang selama lebih dari 8 tahun telah ikut terlibat dalam peristiwa budaya yang dinamai Sastra Bulan Purnama, di Tembi Rumah Budaya Yogyakarta. Antologi puisi ini diterbitkan untuk menandai tonggak penting dalam kehidupan Ons Untoro, orang yang menggagas dan menekuni penyelenggaraan Sastra Bulan Purnama secara rutin sampai dengan hari ini, yakni 60 tahun usia. Oleh karenanya, penerbitan antologi Penyair dan Rembulan ini di satu sisi merupakan tanda syukur Ons Untoro atas anugerah usia yang ke 60, sekaligus tanda syukur atas kerja-kerja produktif yang masih dijalani sampai dengan usia 60. Di sisi lain, Penyair dan Rembulan ini menjadi tanda syukur perwakilan para sahabat pekerja budaya yang selama ini ikut mendukung kerja-kerja produktif bersama Ons Untoro melalui peristiwa Sastra Bulan Purnama. Bolehlah dinyatakan bahwa penerbitan Penyair dan Rembulan ini merupakan syukur bersama atas kerja kreatif-p...

Membaca Tanda, Mengisahkan Makna

  Mencermati hal, pengalaman, dan peristiwa-peristiwa yang biasa secara luar biasa, adalah gaya hidup orang yang suka belajar. Mencermati semua yang biasa secara luar biasa itu membawa orang kepada proses menggali informasi, menelusur sejarah, membongkar konteks-konteks, mengangkat yang tersembunyi, mengambil jarak dan membangun sikap kritis terhadap semua yang mengandung bius bagi pikiran, mengapresiasi apa yang pan-tas diunggulkan dan dipuji, lalu semuanya itu diwariskan kepada generasi ke generasi. Seluruh proses itu, menuntut orang untuk menjalani proses belajar terus-menerus.  Buku Membaca Tanda, Esai-esai tentang Kebudayaan , yang merupakan kumpulan tulisan sahabat sekaligus saudara tua saya, Ons Untoro, yang dirangkum untuk menandai tonggak perjalanan hidupnya ke 60 ini, secara jelas menunjukkan karakter seperti tergambar dalam paragraf di atas. Tulisan-tulisan yang terangkum dalam buku ini merupakan praksis mencermati semua yang biasa secara luar biasa. Oleh karena itu...

Investigasi Pohon-pohon, 100 Puisi tentang kerusakan lingkungan hidup

 "....ketika makna tempat terasakan dan tersadari sebagai faktor yang mempengaruhi setiap denyut keseharian hidup kita, seluruh indra kita pun terlibat di dalamnya: melihat, mencecap, mendengar, atau merasakan berbagai hal di dalam tempat yang boleh saja disebut “rumah tinggal.” Karenanya, rumah tidak selalu berhenti pada makna fisikal, tetapi juga menjangkau makna yang bersifat mental, emosional, dan spiritual, bahkan kultural.  Bertolak dari hal-hal yang telah dikemukakan tersebut, puisi-puisi Chairul Anwar yang dihimpun dalam kumpulan bertajuk Investigasi Pohon-pohon ini akan menemukan relevansi dan signifikansinya. Hutan dan kayu beserta berbagai variannya oleh Chairul Anwar telah diperhitungkan sebagai “matrik” penciptaan, sehingga melalui konversi dan ekspansi tertentu terhadapnya ia dihadirkan dalam puisi sebagai teks kreatif.  ....Chairul Anwar sepertinya ingin berucap manusia hendaknya belajar untuk secara tepat memperlakukan alam sebagai tempat tinggalnya secara...

Kembang-kembang Katresnan, Geguritan

 Assalamu’alaikum Warohmatullahi Wabarokatuh. Langkung rumiyin ngaturaken puji klawan sokur konjuk dhumateng ngarsanipun Gusti Allah ingkang Murbeng Gesang, awit sih nugraha-nipun dhumateng kula lan panjenengan sami. Kula angupadi cara kados pundi supados saged memetri Basa Jawa tetep lestari. Inggih menika kedah wonten sarana murih gampilipun mangertosi kawruh Basa Jawa.  Ngaturaken agunging panuwun dhumateng para kadang Alumni SMPN Sanden 1974 ingkang dipun sesepuhi dening Mas Ir. Subiyanto Hadi, MM. ingkang sampun paring wekdal kagem pepanggihan reuni ngantos dados geguritan menika. Ngaturaken agunging panuwun dhumateng para kadang Paguyuban Sastra Jawa Bantul Paramarta ingkang dipun sesepuhi dening Bapak Bambang Nugroho, S.H. ingkang sampun paring inspirasi ngantos dados geguritan punika. Buku ingkang sampun kahimpun pinaringan irah-irahan ‘’Kembang-Kembang Katresnan” ingkang isinipun babagan Asmara, Endahe alam padesan, Nalikane kembang melathi wis mekar, Kembang anggrekk...

Masalah Kebangsaan Kita 2

  Kompilasi Seri Diskusi Kebangsaan Edisi 13 - 24 Tahun 2018 Seperti pernah dijanjikan pada penerbitan buku Kompilasi Diskusi Kebangsaan PWS (Paguyuban Wartawan Sepuh) Yogyakarta yag baru lalu, bahwa akan segera diterbitkan buku Kompilasi Diskusi Kebangsaan # 2. Dan alhamdullilah puji syukur dihaturkan kehadirat Tuhan Maha Pengasih dan Penyayang, janji itu akhirnya dapat diwujudkan. Buku kompilasi # 2 ini berisi kumpulan makalah selama diskusi satu tahun yang dirangkum dalam Jurnal Kebangsaan ke -13 sampai 24. Dilengkapi juga dengan berbagai pandangan atau tanggapan dari audiens selama diskusi berlangsung. Dalam buku kompilasi kebangsaan # 2 secara khusus tim penyusun buku ini meminta Mantan Bupati Kabupaten Sleman periode 2000- 2005 dan 2005 – 2010 Drs Ibnu Subiyanto Akt untuk memberikan semacam refleksi atas isi buku. Perlu pembahasan dari berbagai sektor seperti: ekonomi, infrastruktur, pertanian, pariwisata  dan lain-lain. Pak Ibnu panggilan akrab beliau, cukup aktif menul...

Rumah Nin

  Antologi Cerpen berjudul Rumah Nin ini ditulis oleh sepuluh cerpenis yang semuanya perempuan. Sepuluh cerpen yang terangkum di dalam antologi ini merupakan cerita pendek yang berkualitas, yang diproduksi berdasarkan proses kreatif imajinatif atas pengalaman perjalanan konkret, konteks kebudayaan rakyat yang ada di nusantara, dengan tema-tema yang menarik dan kadang-kadang mencengangkan. Sepuluh cerita pendek yang terangkum di dalam antologi ini merupakan cerita pendek yang matang, dengan pilihan kata yang teliti, penggambaran yang menarik dan memesona, alur cerita yang membuat pembaca tak ingin lepas darinya, dan dengan kisah-kisah yang tak terduga. Oleh karena itu membaca antologi cerita pendek ini sangatlah bermanfaat dan menghibur. Kualitas cerita pendek yang terangkum dalam antologi ini, dapat dirasakan dalam beberapa aspek antara lain, gaya penceritaan yang menarik yang membuat kisah-kisah yang ditawarkan itu terasa hidup dan nyata sebagai pengalaman pembaca, kisah-kisah itu...

Sihir Hujan

  Di Panggung sastra Ristia Herdiana tidak gegap gempita, dan ‘jarang hadir’ di perhelatan sastra yang diselenggarakan di banyak tempat, tetapi bukan berarti dia menghindar dari kegiatan sastra. Saya sering melihat dia berada dalam kegiatan sastra di TIM Jakarta misalnya, ketika ada acara sastra. Rupanya, kehadiran tidak terlalu urgen bagi Ristia, yang lebih urgen adalah mencipta puisi. Ini yang saya kira lebih penting ketimbang banyak hadir, tetapi sepi dari karya. Ini kali ketiga dia mempunyai buku puisi tunggal, selain tentu saja, buku kumpulan puisi bersama di antara sejumlah penyair lainnya. Buku puisinya diberi judul ‘Sihir Hujan’. Memang terasa puitis judulnya. Judul buku ini diambil dari salah satu puisi yang ada di dalam buku. Melalui puisi, Ristia menyajikan kisah persoalan kehidupan, bukan saja kehidupan di Jakarta di mana dia tinggal, tetapi karena dia sering bepergian, atau sebut saja traveling, pengalamannya itu mengkristal menjadi puisi. Pendek kata, Ristia menulis p...

Jika Jakarta Libur Sehari

 Sudarmono, saya kenal sekitar 25 tahun lalu, dan sudah cukup lama tidak bertemu, tetapi tidak saling lupa. Untuk menandai usianya yang sudah 55 tahun, Darmono, demikian saya memang-gilnya, menerbitkan antologi puisi tunggal karyanya. Sejumlah puisi yang dia tulis, salah satunya, yang berjudul ‘Lompatan Ke 55’ mereflekiskan perjalanan hidupnya selama ini. Darmono merenungkan perjalanan hidupnya, dan melalui puisi dia megekspresikan renungannya: Seperti sejarah aku mengalir mengikuti arusnya menggelembung membawa diriku bayanganku tinggal sepenggalang galah berlarian di padang yang gersang sementara aku bertanya pada pepohonan bersyukurlah pada nyanyian m usim Begitulah alinea pertama dari puisi berjudul ‘Lompatan 55’, yang menyajikan kisah hidupnya, yang ‘mengalir mengikuti arusnya’. Kata ‘nya’ di sini menunjuk jalan hidupnya, yang kini tinggal di Bekasi, menjadi karyawan satu perusahaan swasta. Tetapi, Darmono tidak bisa melupakan tempat tinggalnya, satu desa di wilayah Bantul, ya...

Taman Kembang Asri, Geguritan

 Assalamu’alaikum Warohmatullahi Wabarokatuh. Langkung rumiyin ngaturaken puji klawan syukur konjuk dhumateng ngarsanipun Gusti Allah ingkang Murbeng Gesang, awit sih nugraha-nipun dhumateng kula lan panjenengan sami. Kula angupadi cara kados pundi supados saged memetri Basa Jawa tetep lestari. Inggih punika kedah wonten sarana murih gampilipun mangertosi kawruh Basa Jawa. Ngaturaken agunging panuwun dhumateng para kadang Alumni SMPN Sanden 1974 ingkang dipun sesepuhi dening Mas Ir. Subiyanto Hadi, MM. ingkang sampun paring wekdal kagem pepanggihan reuni ngantos dados geguritan punika. Ngaturaken agunging panuwun dhumateng para kadang Paguyuban Sastra Jawa Bantul Paramarta ingkang dipun sesepuhi dening Bapak Bambang Nugroho, S.H. ingkang sampun paring inspirasi ngantos dados geguritan punika. Buku ingkang sampun kahimpun pinaringan irah-irahan ‘’Geguritan Taman Kembang Asri” ingkang isinipun babagan Endahe alam padesan, Manuk Kedhasih, Pesisir Guwa Cemara, Rembulan Purnama, Reuni, ...

Membaca Hujan di Bulan Purnama

  Di tengah media yang terus berkembang, rupanya puisi tidak hilang, malah ikut berselancar di lautan media yang semakin mempunyai beragam formula. Puisi seperti bisa mengambil tempat di mana saja, dan ruang-ruang yang dihuni puisi, kecil atau besar tidak merisaukan bagi para penyair. Bahkan melalui karya puisinya, para penyair mengisi ruang-ruang yang memiliki beragam rupa. Dari beragam rupa bisa dibuat dalam dua kategori, yakni ruang konvensional dan ruang digital. Pada mulanya, puisi tumbuh di ruang-ruang konvensional, misalnya di rubrik budaya surat kabar, atau diterbitkan dalam bentuk buku, yang sifatnya masih stensilan, atau juga dibacakan di ruang-ruang konvesional sepeti ruang pertunjukan dan sejenisnya, termasuk dibacakan di balai desa dan ruang-ruang yang ada di kampung lainnya. Kita bisa melihat, tiga ruang konvensional yang sekarang masih terus dipelihara, dan puisi nyaman tinggal di dalamnya, ialah rubrik sastra di surat kabar, penerbitkan buku puisi dan pembacaan puis...