Skip to main content

Posts

Pulang, Kumpulan Puisi

 BILA buku kecil ini berada di tangan Anda, jangan berpretensi akan mendapatkan sajian puisi seperti halnya karya teman-teman para penyair berkelas. Bait-bait yang kutulis dalam buku ini tidak lebih dari pengalaman hidupku yang tidak mampu lagi kupendam. Menyesakkan keheningan batin. Berpuluh tahun berselancar da-lam ombak kehidupan ini menjadikan aku terus gelisah, kapan akan menyentuh bibir pantai. Gelombang kehidupan datang silih berganti. Meski aku pun sangat sadar bahwa kehidupan ini begitu dinamis. Sebagai seorang berdarah wartawan, aku hanya bertugas mencatat drama kehidupan yang sedang berproses. Bersahabat dengan para penyair turut mewarnai perjalanan hidupku. Mengajariku mencintai alam dan lingkungannya. Bagai-mana memanusiakan manusia dalam kehadirannya yang utuh. Ketika bicara masalah ini, aku senantiasa teringat almarhum Mas Kirdjomulyo, alm Linus Suryadi AG, alm Mas Suryanto Sastroat-modjo, alm Teguh Ranusastro Asmoro. Mereka ini adalah orang-orang yang sudah tuntas m...

HURSA, Kumpulan Puisi Simon Hate 1977 -2017

 Ini adalah sekumpulan sajak. Ditulis di berbagai tempat, di berbagai saat. Sajak bisa saja canggih; sebagaimana teknologi, serta bisa juga ”apik”, kerna komoditi. Sajak-sajak ini mungkin saja tampak ingin seperti itu, sebagian. Beberapa, bahkan telah kutulis ulang, kuperbaiki (mungkin karena dorongan seperti itu), tapi kemudian kusadari, bahwa tindakan itu hanyalah sebuah pilihan dari sekian kemungkinan. Kenapa aku ingin sajak-sajak ini dibaca orang? Aku tak bermak-sud (atau, lebih tepatnya: tak berani melayani keinginan), untuk merebut hati peminat sajak-sajaknya Sutardji, Sapardi, atau pun Goenawan. Aku sekedar ingin memantulkan apa yang pernah kualami, sekedar memberi kesaksian, membagi pemaknaan yang pernah aku lakukan terhadap kehidupan. Beberapa orang dari sekian pembaca mungkin saja pernah ”bersama” di dalam sajak-sajak ini. Tetapi, kenapa sajak? Ada banyak cara yang bisa kita lakukan untuk mewujudkan kebersamaan itu? Sebagian dari diri kita adalah kreator, sebagian lagi kr...

Jejak Pikiran Seorang Jurnalis

  Jurnalis yang Mengajak Berpikir dan Berilmu Landasan visioner yang menjadi pondasi penerbitan buku karya H. Nasrullah Krisnam ini secara sangat lugas tertulis dalam kutipan ayat Al Qur’an pada awal buku. Kutipan itu berbunyi demikian: “Dan dia menundukkan untukmu apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi semuanya sebagai rahmat daripada-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berpikir” (QS. Al-Jasiyah:13).   Secara konsisten, melalui 109 judul tulisan yang ada dalam buku ini, penulis berupaya untuk menawarkan pemikiran kepada pembaca, melibatkan pembaca untuk ikut berpikir, mempertanyakan fenomena kehidupan yang secara nyata dihadapi, serta mengajak pembaca untuk melengkapi diri dengan beragam kerangka keilmuan agar mampu membaca realitas kehidupan itu secara lebih kritis dan memaknainya ulang, dan jika perlu mengubah apa yang pantas diubah agar kehidupan menjadi lebih baik, adil, dan bermartabat. Oleh k...

Yang Hilang di Yogya

PROFESI wartawan itu tak ada matinya. Seorang wartawan bisa saja berhenti atau pensiun dari pekerjaan formalnya di media, tetapi aktivitas menulisnya tak boleh berhenti, tak bisa pensiun, tak bisa mati. Aktivitas menulisnya harus tetap hidup sampai kapan pun. Ya, harus menyala, harus tetap hidup sepanjang hayat. Menulis yang dimaksud di sini, tentu dalam kontek berkarya. Buku Yang Hilang di Yogya ini adalah buktinya. Bukti bahwa profesi wartawan itu memang tak ada matinya. Dan, bukti jika menulis itu bagi mereka yang pernah menekuni dunia kewartawanan telah menjadi tugas kehidupan yang mulia sepanjang perjalanan kehidupan, sampai Allah memanggil pulang ke haribaan-Nya. Tigapuluh dua tulisan yang terhimpun di dalam buku ini ditulis oleh 32 orang yang pernah 'berpeluh-peluh', 'berbasah-basah' dan 'berpanas-panas' di dalam dunia kewartawanan. Beberapa di antaranya masih setia bekerja di media, selebihnya sudah berstatus pensiun, mantan wartawan, dosen, pekerja seni...

Perempuan di Ujung Senja

  Perempuan dan puisi, dua kata yang berbeda, tetapi keduanya bisa saling bertemu, atau setidaknya disatukan: Perempuan menulis puisi atau perempuan membaca puisi. 33 perempuan dari kota yang berbeda, dan latar belakang serta profesi yang tidak sama, ada ibu rumah tangga, guru, jurnalis, dokter, pegawai negeri dan lainnya. Semuanya mempunyai aktivitas yang sama, yakni menulis puisi. Hasil karya mereka dikumpulkan dalam satu buku, dan diberi judul Antologi Puisi 33 Perempuan Penyair ‘Perempuan Di Ujung Senja’. Di mana mereka tinggal? Mereka tinggal di kota-kota yang berbeda, ada yang tinggal di Jakarta, Bandung, Temanggung, Sidoarjo, Sragen, Yogya, Tangerang dan kota-kota lainnya. Tidak semua sudah saling kenal, tapi setidaknya satu dua orang sudah saling kenal, atau yang dari Bandung mengenal yang dari Tangerang, tapi belum tentu mengenal yang dari Sidoarjo atau Sragen. Namun mungkin mereka sudah saling mengenal nama. Kali ini, melalui puisi, mereka saling dipertemukan dan saling b...

Wajah Rembulan

 Puisi, bagi Ristia Herdiana, agaknya merupakan nafas hidupnya. Ia tak bisa dilepaskan dari puisi. Selain produktif menulis puisi, Ristia seringkali tampil membacakan puisi karyanya. Antologi puisi yang berjudul ‘Wajah Rembulan’ ini bukan antologi pertama, tetapi merupakan antologi puisi tunggal miliknya yang keempat. Ada sekitar 60 puisi yang ditulis dari berbagai tahun yang dikumpulkan dalam satu buku. Angka tahun yang berbeda-beda menunjukkan bahwa Ristia rajin menulis puisi di tengah kesibukannya sebagai ibu rumah tangga dan memiliki kegiatan usaha lainnya. Aktivitas keseharian dan menulis puisi bisa dilakukannya, tanpa salah satu saling mengganggu. Di tengah waktu luang, Ristia bisa saja dengan enteng menuju ke Yogya misalnya, untuk membacakan puisi karyanya bersama penyair perempuan lainnya. Ristia Herdiana, saya kira, seperti penyair perempuan lainnya, yang tumbuh di era digital, dan tidak lagi dimanjakan ruang sastra surat kabar, tetapi justru ruang sastranya lebih luas, da...

OBITUARI MEREKA YANG TELAH PERGI, Kumpulan Puisi

  Sebagian orang meyakini bahwa kematian hanyalah sebagian kecil dari seluruh kehidupan, dan kehidupan yang luar biasa luas itu tak pernah diputus atau dihentikan oleh kematian. Meskipun tak semua orang memegang keyakinan yang sama, naga-naganya, jejak kebenarannya tercermin dalam kumpulan puisi karya Ons Untoro berjudul OBITUARI, Mereka Yang Telah Pergi ini. Kumpulan puisi ini menunjukkan dua hal yang tampaknya bertentangan namun manunggal dalam sebuah keserentakan, yakni kepergian dan kehadiran. Judul kumpulan puisi ini menegaskan subyek yang jelas yakni Mereka Yang Telah Pergi . Pada saat yang sama, seluruh kumpulan puisi ini menghadirkan secara sangat jelas, subyek yang telah pergi itu, melalui perspektif dan gambaran yang tetap melekat dalam memoria Ons Untoro. Dengan menuliskan puisi-puisi ini, Ons Untoro sedang menghadirkan mereka di hadapan pembaca.  Dalam perspektif psikologi spiritual, membaca kembali kehadiran pengalaman masa lampau atau subyek tertentu pada masa l...

Tema Sosial Dalam Puisi Indonesia

  Buku yang mengusung enam tulisan ini memayungi tulisannya dalam istilah puisi-puisi yang bertema sosial. Namun, maksud istilah sosial tersebut bukan hanya beragam, tetapi bahkan memberikan karakter yang sangat berbeda. Itulah sebabnya, untuk setiap kasus sosial perlu strategi dalam mengelola dan menganalisis masalah sosial tersebut sehingga setiap kasus sosial mendapatkan penanganan yang proporsional.  Misalnya, untuk puisi yang berbau “traumatik sosial”, perspektif yang bersifat rekonsiliatif mungkin perlu dipertimbangkan. Kasus yang mencoba mendedah puisi yang melawan kesewenangan rezim penguasa, atau bahkan koruptor, kajian-kajian hegemoni dan dekonstruksi perlu dicermati dan dieksplorasi agar kita tidak “stagnan” dalam posisi “salah baca”. Karena jangan-jangan penyair yang sering diposisikan sebagai pahlawan, sebetulnya juga bagian dari pecundang yang ikut melegitimasi kekuasaan atau bahkan ikut ngompori para koruptor. Alih-alih, uji materi puisi dan uji penyair juga per...

Menyandi Sepi, Antologi Puisi 23 Penyair

Antologi puisi yang diberi judul ‘Menyandi Sepi’ karya 23 penyair ini terdiri dari 92 puisi. Masing-masing penyair menyajikan 4 puisi. Mereka datang dari beberapa kota, dan hanya satu pria di antara 22 perempuan penyair ini. Profesi mereka berbeda, namun memiliki kecintaan yang sama, yakni menulis puisi. Karena itu, di tengah kesibukan sebagai guru misalnya, masih meluangkan waktu menulis puisi. Di tengah kesibukannya sebagai karyawan atau bahkan ibu rumah tangga, puisi menjadi teman yang tak bisa ditinggalkan, dan dari ‘persentuhan’ dengan puisi, hasilnya diterbitkan menjadi buku antologi puisi. Saya memilih judul antologi puisi ‘Menyandi Sepi’ , yang saya ambilkan dari judul puisi karya Resmiyati. Judul puisi ini, saya kira bisa mewakili puisi-puisi yang lain untuk diambil sebagai judul buku. Kata menyandi, dari kata dasar sandi, saya kira bisa kita pahami sebagai upaya para penyair ini membuat sandi atau tanda-tanda melalui kata untuk merespon sesuatu dalam puisinya. Mereka, para ...

Puisi Kaum Minoritas, Monolog 5 Puisi Denny J.A

 Buku menarik ini adalah kumpulan naskah monolog yang digarap dari puisi-puisi karya Denny Januar Ali, seorang enterpreneur intelek–tual yang mampu menulis puisi di samping seabreg kegiatan utamanya. Lima orang penggiat panggung menuliskan lagi lima puisi terpilih, menjadi naskah pertunjukan siap pentas. Puisinya sendiri diambil dari buku kumpulan puisi Denny JA, “CINTAI MANUSIA SAJA, Soal Diskriminasi, Agama dan Cinta”. Berangkat dari rasa sayang bila puisi-puisi bermakna ini hanya bisa dibaca secara pribadi di kamar belajar atau perpustakaan, naskah monolog atau naskah pemanggungannya pun disiapkan. Tentu, puisi-puisi ini juga bisa langsung dibacakan di depan kelas pelajaran sastra, atau dengan didahului beberapa kali latihan dibacakan pada acara poetry reading yang lebih serius. Tetapi menggelar pertunjukan berbekal naskah monolog dari kumpulan ini pasti membuat pentas akan lebih semarak, seharusnya begitu. Lalu, apa beda antara puisi, poetry reading dan pagelaran monolog ?...