Skip to main content

Posts

Wajah Rembulan

 Puisi, bagi Ristia Herdiana, agaknya merupakan nafas hidupnya. Ia tak bisa dilepaskan dari puisi. Selain produktif menulis puisi, Ristia seringkali tampil membacakan puisi karyanya. Antologi puisi yang berjudul ‘Wajah Rembulan’ ini bukan antologi pertama, tetapi merupakan antologi puisi tunggal miliknya yang keempat. Ada sekitar 60 puisi yang ditulis dari berbagai tahun yang dikumpulkan dalam satu buku. Angka tahun yang berbeda-beda menunjukkan bahwa Ristia rajin menulis puisi di tengah kesibukannya sebagai ibu rumah tangga dan memiliki kegiatan usaha lainnya. Aktivitas keseharian dan menulis puisi bisa dilakukannya, tanpa salah satu saling mengganggu. Di tengah waktu luang, Ristia bisa saja dengan enteng menuju ke Yogya misalnya, untuk membacakan puisi karyanya bersama penyair perempuan lainnya. Ristia Herdiana, saya kira, seperti penyair perempuan lainnya, yang tumbuh di era digital, dan tidak lagi dimanjakan ruang sastra surat kabar, tetapi justru ruang sastranya lebih luas, da...

OBITUARI MEREKA YANG TELAH PERGI, Kumpulan Puisi

  Sebagian orang meyakini bahwa kematian hanyalah sebagian kecil dari seluruh kehidupan, dan kehidupan yang luar biasa luas itu tak pernah diputus atau dihentikan oleh kematian. Meskipun tak semua orang memegang keyakinan yang sama, naga-naganya, jejak kebenarannya tercermin dalam kumpulan puisi karya Ons Untoro berjudul OBITUARI, Mereka Yang Telah Pergi ini. Kumpulan puisi ini menunjukkan dua hal yang tampaknya bertentangan namun manunggal dalam sebuah keserentakan, yakni kepergian dan kehadiran. Judul kumpulan puisi ini menegaskan subyek yang jelas yakni Mereka Yang Telah Pergi . Pada saat yang sama, seluruh kumpulan puisi ini menghadirkan secara sangat jelas, subyek yang telah pergi itu, melalui perspektif dan gambaran yang tetap melekat dalam memoria Ons Untoro. Dengan menuliskan puisi-puisi ini, Ons Untoro sedang menghadirkan mereka di hadapan pembaca.  Dalam perspektif psikologi spiritual, membaca kembali kehadiran pengalaman masa lampau atau subyek tertentu pada masa l...

Tema Sosial Dalam Puisi Indonesia

  Buku yang mengusung enam tulisan ini memayungi tulisannya dalam istilah puisi-puisi yang bertema sosial. Namun, maksud istilah sosial tersebut bukan hanya beragam, tetapi bahkan memberikan karakter yang sangat berbeda. Itulah sebabnya, untuk setiap kasus sosial perlu strategi dalam mengelola dan menganalisis masalah sosial tersebut sehingga setiap kasus sosial mendapatkan penanganan yang proporsional.  Misalnya, untuk puisi yang berbau “traumatik sosial”, perspektif yang bersifat rekonsiliatif mungkin perlu dipertimbangkan. Kasus yang mencoba mendedah puisi yang melawan kesewenangan rezim penguasa, atau bahkan koruptor, kajian-kajian hegemoni dan dekonstruksi perlu dicermati dan dieksplorasi agar kita tidak “stagnan” dalam posisi “salah baca”. Karena jangan-jangan penyair yang sering diposisikan sebagai pahlawan, sebetulnya juga bagian dari pecundang yang ikut melegitimasi kekuasaan atau bahkan ikut ngompori para koruptor. Alih-alih, uji materi puisi dan uji penyair juga per...

Menyandi Sepi, Antologi Puisi 23 Penyair

Antologi puisi yang diberi judul ‘Menyandi Sepi’ karya 23 penyair ini terdiri dari 92 puisi. Masing-masing penyair menyajikan 4 puisi. Mereka datang dari beberapa kota, dan hanya satu pria di antara 22 perempuan penyair ini. Profesi mereka berbeda, namun memiliki kecintaan yang sama, yakni menulis puisi. Karena itu, di tengah kesibukan sebagai guru misalnya, masih meluangkan waktu menulis puisi. Di tengah kesibukannya sebagai karyawan atau bahkan ibu rumah tangga, puisi menjadi teman yang tak bisa ditinggalkan, dan dari ‘persentuhan’ dengan puisi, hasilnya diterbitkan menjadi buku antologi puisi. Saya memilih judul antologi puisi ‘Menyandi Sepi’ , yang saya ambilkan dari judul puisi karya Resmiyati. Judul puisi ini, saya kira bisa mewakili puisi-puisi yang lain untuk diambil sebagai judul buku. Kata menyandi, dari kata dasar sandi, saya kira bisa kita pahami sebagai upaya para penyair ini membuat sandi atau tanda-tanda melalui kata untuk merespon sesuatu dalam puisinya. Mereka, para ...

Puisi Kaum Minoritas, Monolog 5 Puisi Denny J.A

 Buku menarik ini adalah kumpulan naskah monolog yang digarap dari puisi-puisi karya Denny Januar Ali, seorang enterpreneur intelek–tual yang mampu menulis puisi di samping seabreg kegiatan utamanya. Lima orang penggiat panggung menuliskan lagi lima puisi terpilih, menjadi naskah pertunjukan siap pentas. Puisinya sendiri diambil dari buku kumpulan puisi Denny JA, “CINTAI MANUSIA SAJA, Soal Diskriminasi, Agama dan Cinta”. Berangkat dari rasa sayang bila puisi-puisi bermakna ini hanya bisa dibaca secara pribadi di kamar belajar atau perpustakaan, naskah monolog atau naskah pemanggungannya pun disiapkan. Tentu, puisi-puisi ini juga bisa langsung dibacakan di depan kelas pelajaran sastra, atau dengan didahului beberapa kali latihan dibacakan pada acara poetry reading yang lebih serius. Tetapi menggelar pertunjukan berbekal naskah monolog dari kumpulan ini pasti membuat pentas akan lebih semarak, seharusnya begitu. Lalu, apa beda antara puisi, poetry reading dan pagelaran monolog ?...

Yogya Bercerita, Catatan 40 Wartawan ala Jurnalisme Malioboro

  Mengapa menggunakan sebutan “paguyuban”? Karena tujuannya  semata-mata supaya benar-benar guyub. Dalam pengertian rukun tidak perlu ribet dengan tetek bengek sistem sebagaimana persyaratan sebuah organisasi. Secara periodik mengadakan pertemuan silaturahim kumpul-kumpul dalam rangka “ngrabuk nyawa”. Bersenda-gurau bersama melepas kerinduan setelah berpuluh-puluh tahun terbenam dalam kesibukan menjalankan profesi kewartawanan. Kata orang untuk memperpanjang usia.  Dipilih istilah “sepuh” dan bukan “tua” untuk paguyuban para wartawan ini karena memang mengandung maksud. Sepuh tidak sekedar tua usia, tetapi juga dimaknai dengan adanya kandungan unsur “wise”. Dianggap sudah sampai pada tahapan “menep” dalam menjalani kehidupan. Maka disepakatilah sebutan Paguyuban Wartawan Sepuh (PWS) ini. Jadi sangat jelas, paguyuban para wartawan sepuh ini bukanlah sebuah organisasi. Pada pertemuan PWS yang kesekian kalinya yang kebetulan diadakan di Omah Petruk padepokan milik Romo Sindh...

WAJAH IBU, antologi puisi 35 penyair perempuan

  ‘Wajah Ibu’ Di Tengah Perempuan Saya merasa, gairah kaum perempuan menulis puisi tumbuh menyenangkan. Hal ini, saya kira, tidak seperti awal tahun 1970, bahkan tahun-tahun sebelumnya, di mana dunia penyair merupakan domain laki-laki. Tetapi bukan berarti sama sekali tidak ada perempuan yang menulis puisi: jumlahnya hanya sedikit dibanding jumlah penyair pria. Apalagi, pada perkembangan berikutnya, penyair perempuan ‘tidak lagi terdengar’, dan lagi-lagi hanya terhitung bilangan jari, yang masih bergelut dengan puisi. Nama seperti Toeti Heraty, Diah Hadaning dan Rita Oetoro hanyalah beberapa yang bisa disebut. Penyair perempuan lainnya, yang muncul sesudah tahun 1980-an, ada sejumlah nama. Dalam kata lain, meskipun jumlahnya sedikit, tetapi selalu ada penyair perempuan ‘yang hadir’ dalam durasi tahun yang berbeda-beda. Dan setelah tahun 2000, lebih-lebih pada era digital ini, penyair perempuan menampakkan gairah berpuisi. Antologi puisi yang diberi judul ‘Wajah Ibu’ ini, menghadirk...

Gondomanan 15, ANTOLOGI PUISI ALUMNI RENAS

  SAYA termasuk salah seorang yang bahagia dan bangga, ketika sejumlah nama yang dulu di tahun 70-an dan 80-an ‘bergelut’ menyemarakkan halaman atau rubrik Remaja Nasional (Renas), halaman yang disediakan Harian “Berita Nasional”, yang ketika itu kantor redaksinya di Jl. Gondomanan 15, Yogyakarta, kini menyatukan dirinya kembali di dalam antologi puisi GONDOMANAN 15. Betapa tidak. Sebelum Renas diasuh oleh Sutirman Eka Ardhana, saya termasuk yang terlebih dulu membangun keberadaan Renas tersebut. Renas merupakan kelanjutan dari halaman Suluh Remaja (Sura). Harian “Berita Nasional” sebelumnya bernama “Suluh Marhaen”. Dan, halaman atau rubrik Suluh Remaja merupakan halaman yang disediakan Harian “Suluh Marhaen” untuk para remaja atau kaum muda menyalurkan kreativitas dirinya. Kala itu Sura berada di bawah asuhan saya dan Mas Adrin Umar. Di awal tahun-tahun 70-an, halaman Sura berganti menjadi Renas, setelah Harian “Suluh Marhaen” berganti nama “Berita Nasional”. Di awal kemunculannya...

Suara-suara dari Wirogunan

 Mencipta karya sastra seperti cerpen, novel, esai, puisi, bukanlah pekerjaan mudah bagi para sastrawan, mahasiswa, guru, dosen, politisi, jenderal, hingga para pejabat tinggi di negeri ini. Sebab,  dalam prosesnya membutuhkan ketekunan, kesabaran, keluasan wawasan, keanekaragaman gagasan, kebeningan dan kedalaman berpikir, keterbukaan hati, kepekaan rasa, kreativitas prima, juga penguasaan bahasa yang cukup sebagai media ekspresinya. Maka, ketika sebagian warga binaan LP Wirogunan, Yogyakarta, mencoba belajar mencipta puisi seperti terkumpul dalam antologi ini rasanya kita tengah menyaksikan sebuah prestasi yang luar biasa indahnya. Apalagi, besar kemungkinan antologi puisi ini adalah antologi puisi pertama yang lahir dari balik tembok LAPAS di Indonesia.  Dicipta oleh mereka yang tengah nggentur tapa dan mesu budi, berkutat menemukan jalan terang yang bakal ditempuhnya kelak kemudian hari. Setelah hampir lima puluh tahun “menikahi puisi”, saya berani menyatakan bahwa pu...

Pulang Ke Kotamu

Pada sekitar tahun 1980-an, seorang Profesor bidang manajemen organisasi dari Weatherhead School of Management, Case Western Reserve University, Ohio, Amerika Serikat, bernama David L. Cooperrider, mengembangkan sebuah pendekatan baru yang dikenal dengan pendekatan Appreciative Inquiry . Pendekatan ini dimaksudkan sebagai upaya untuk menggapai sebuah perubahan di masa depan berlandaskan pengalaman positif dan keunggulan nyata yang telah dicapai pada masa lalu. Ini merupakan pendekatan alternatif terhadap pendekatan konvensional yang biasa dikenal sebagai pendekatan hadap masalah (problem solving) .  Pendekatan baru ini tetap mengakui adanya masalah dalam realitas, namun ia tidak menjadikannya sebagai fokus untuk merancang perubahan pada masa depan. Pendekatan ini lebih memilih fokus kepada pengalaman keberhasilan atau pengalaman positif dan keunggulan yang telah terbukti dapat dicapai. Pengalaman positif dan keunggulan yang telah terbukti dapat dicapai itu merupakan modal utama ya...