Skip to main content

Posts

Puisi Kaum Minoritas, Monolog 5 Puisi Denny J.A

 Buku menarik ini adalah kumpulan naskah monolog yang digarap dari puisi-puisi karya Denny Januar Ali, seorang enterpreneur intelek–tual yang mampu menulis puisi di samping seabreg kegiatan utamanya. Lima orang penggiat panggung menuliskan lagi lima puisi terpilih, menjadi naskah pertunjukan siap pentas. Puisinya sendiri diambil dari buku kumpulan puisi Denny JA, “CINTAI MANUSIA SAJA, Soal Diskriminasi, Agama dan Cinta”. Berangkat dari rasa sayang bila puisi-puisi bermakna ini hanya bisa dibaca secara pribadi di kamar belajar atau perpustakaan, naskah monolog atau naskah pemanggungannya pun disiapkan. Tentu, puisi-puisi ini juga bisa langsung dibacakan di depan kelas pelajaran sastra, atau dengan didahului beberapa kali latihan dibacakan pada acara poetry reading yang lebih serius. Tetapi menggelar pertunjukan berbekal naskah monolog dari kumpulan ini pasti membuat pentas akan lebih semarak, seharusnya begitu. Lalu, apa beda antara puisi, poetry reading dan pagelaran monolog ?...

Yogya Bercerita, Catatan 40 Wartawan ala Jurnalisme Malioboro

  Mengapa menggunakan sebutan “paguyuban”? Karena tujuannya  semata-mata supaya benar-benar guyub. Dalam pengertian rukun tidak perlu ribet dengan tetek bengek sistem sebagaimana persyaratan sebuah organisasi. Secara periodik mengadakan pertemuan silaturahim kumpul-kumpul dalam rangka “ngrabuk nyawa”. Bersenda-gurau bersama melepas kerinduan setelah berpuluh-puluh tahun terbenam dalam kesibukan menjalankan profesi kewartawanan. Kata orang untuk memperpanjang usia.  Dipilih istilah “sepuh” dan bukan “tua” untuk paguyuban para wartawan ini karena memang mengandung maksud. Sepuh tidak sekedar tua usia, tetapi juga dimaknai dengan adanya kandungan unsur “wise”. Dianggap sudah sampai pada tahapan “menep” dalam menjalani kehidupan. Maka disepakatilah sebutan Paguyuban Wartawan Sepuh (PWS) ini. Jadi sangat jelas, paguyuban para wartawan sepuh ini bukanlah sebuah organisasi. Pada pertemuan PWS yang kesekian kalinya yang kebetulan diadakan di Omah Petruk padepokan milik Romo Sindh...

WAJAH IBU, antologi puisi 35 penyair perempuan

  ‘Wajah Ibu’ Di Tengah Perempuan Saya merasa, gairah kaum perempuan menulis puisi tumbuh menyenangkan. Hal ini, saya kira, tidak seperti awal tahun 1970, bahkan tahun-tahun sebelumnya, di mana dunia penyair merupakan domain laki-laki. Tetapi bukan berarti sama sekali tidak ada perempuan yang menulis puisi: jumlahnya hanya sedikit dibanding jumlah penyair pria. Apalagi, pada perkembangan berikutnya, penyair perempuan ‘tidak lagi terdengar’, dan lagi-lagi hanya terhitung bilangan jari, yang masih bergelut dengan puisi. Nama seperti Toeti Heraty, Diah Hadaning dan Rita Oetoro hanyalah beberapa yang bisa disebut. Penyair perempuan lainnya, yang muncul sesudah tahun 1980-an, ada sejumlah nama. Dalam kata lain, meskipun jumlahnya sedikit, tetapi selalu ada penyair perempuan ‘yang hadir’ dalam durasi tahun yang berbeda-beda. Dan setelah tahun 2000, lebih-lebih pada era digital ini, penyair perempuan menampakkan gairah berpuisi. Antologi puisi yang diberi judul ‘Wajah Ibu’ ini, menghadirk...

Gondomanan 15, ANTOLOGI PUISI ALUMNI RENAS

  SAYA termasuk salah seorang yang bahagia dan bangga, ketika sejumlah nama yang dulu di tahun 70-an dan 80-an ‘bergelut’ menyemarakkan halaman atau rubrik Remaja Nasional (Renas), halaman yang disediakan Harian “Berita Nasional”, yang ketika itu kantor redaksinya di Jl. Gondomanan 15, Yogyakarta, kini menyatukan dirinya kembali di dalam antologi puisi GONDOMANAN 15. Betapa tidak. Sebelum Renas diasuh oleh Sutirman Eka Ardhana, saya termasuk yang terlebih dulu membangun keberadaan Renas tersebut. Renas merupakan kelanjutan dari halaman Suluh Remaja (Sura). Harian “Berita Nasional” sebelumnya bernama “Suluh Marhaen”. Dan, halaman atau rubrik Suluh Remaja merupakan halaman yang disediakan Harian “Suluh Marhaen” untuk para remaja atau kaum muda menyalurkan kreativitas dirinya. Kala itu Sura berada di bawah asuhan saya dan Mas Adrin Umar. Di awal tahun-tahun 70-an, halaman Sura berganti menjadi Renas, setelah Harian “Suluh Marhaen” berganti nama “Berita Nasional”. Di awal kemunculannya...

Suara-suara dari Wirogunan

 Mencipta karya sastra seperti cerpen, novel, esai, puisi, bukanlah pekerjaan mudah bagi para sastrawan, mahasiswa, guru, dosen, politisi, jenderal, hingga para pejabat tinggi di negeri ini. Sebab,  dalam prosesnya membutuhkan ketekunan, kesabaran, keluasan wawasan, keanekaragaman gagasan, kebeningan dan kedalaman berpikir, keterbukaan hati, kepekaan rasa, kreativitas prima, juga penguasaan bahasa yang cukup sebagai media ekspresinya. Maka, ketika sebagian warga binaan LP Wirogunan, Yogyakarta, mencoba belajar mencipta puisi seperti terkumpul dalam antologi ini rasanya kita tengah menyaksikan sebuah prestasi yang luar biasa indahnya. Apalagi, besar kemungkinan antologi puisi ini adalah antologi puisi pertama yang lahir dari balik tembok LAPAS di Indonesia.  Dicipta oleh mereka yang tengah nggentur tapa dan mesu budi, berkutat menemukan jalan terang yang bakal ditempuhnya kelak kemudian hari. Setelah hampir lima puluh tahun “menikahi puisi”, saya berani menyatakan bahwa pu...

Pulang Ke Kotamu

Pada sekitar tahun 1980-an, seorang Profesor bidang manajemen organisasi dari Weatherhead School of Management, Case Western Reserve University, Ohio, Amerika Serikat, bernama David L. Cooperrider, mengembangkan sebuah pendekatan baru yang dikenal dengan pendekatan Appreciative Inquiry . Pendekatan ini dimaksudkan sebagai upaya untuk menggapai sebuah perubahan di masa depan berlandaskan pengalaman positif dan keunggulan nyata yang telah dicapai pada masa lalu. Ini merupakan pendekatan alternatif terhadap pendekatan konvensional yang biasa dikenal sebagai pendekatan hadap masalah (problem solving) .  Pendekatan baru ini tetap mengakui adanya masalah dalam realitas, namun ia tidak menjadikannya sebagai fokus untuk merancang perubahan pada masa depan. Pendekatan ini lebih memilih fokus kepada pengalaman keberhasilan atau pengalaman positif dan keunggulan yang telah terbukti dapat dicapai. Pengalaman positif dan keunggulan yang telah terbukti dapat dicapai itu merupakan modal utama ya...